Tiga Wajah Jakarta: Cerita dari Taman

Tiga Wajah Jakarta: Cerita dari Taman

DItulis oleh: Nabila Auliani Ruray & Rebecca Liony

Ilustrasi isi oleh: Hilmy Fadiansyah

Berikut beberapa cara untuk berkenalan dengan sebuah kota: mengunjungi beberapa tempat wisata yang disarankan unggahan blog para pelancong, mengecap ragam rasa dari satu tenda ke tenda lain yang berbintang minimal empat koma lima di Google, menelusuri jalan besar dan jalan tikus sembari mendengarkan celotehan mitra pengemudi berseragam hijau, memantau meme dan lelucon terkait kota tersebut di Twitter, hingga dengan menodong teman lokal untuk menceritakan a sampai z mengenai kota tersebut.

Kami mencoba menawarkan satu cara lagi untuk mengenal lebih jauh sebuah kota, yakni dengan mengunjungi dan membicarakan ruang terbuka hijau (RTH) di kota tersebut. RTH dikenal dengan banyak nama–mulai dari taman, lapangan, taman bermain, pemakaman, hingga hutan kota.. Di tengah pagebluk yang mengharuskan social distancing, ruang-ruang ini sudah mulai dihidupkan lagi oleh pemerintah daerah; terlebih di tengah pagebluk yang mengharuskan social distancing.

Ibukota Indonesia–setidaknya sampai tahun 2024–menjadi objek dari percobaan berkenalan ini. Kami mengobrol dengan tiga orang di sekitar kami mengenai taman ataupun RTH di Jakarta. Lantas, cerita-cerita seperti apa yang akan muncul ketika megakota dengan pertumbuhan kelewat cepat ini dibicarakan oleh mereka yang berkehidupan di ruang terbuka hijaunya?

Pohon-pohon mahoni yang tertata dengan rapi tumbuh memadati Taman Suropati. Saat itu pukul sepuluh pagi. Panas matahari yang mulai terasa menyengat dikalahkan oleh batang tebal pohon berkayu itu yang bayangannya memayungi pengunjung taman. Sebagian besar pengunjung merupakan keluarga muda yang sudah selesai berlari mengelilingi jalur melingkar di sekeliling Taman Suropati. Sebagian lagi merupakan remaja dan dewasa muda yang sedang duduk-duduk santai di sepanjang bangku taman yang telah tersedia. Beberapa pengunjung menikmati alunan biola dari pemusik jalanan, beberapa lainnya memilih membeli jajanan.

Pak Jangkung sedang duduk di seberang jalan. Ia menyandarkan tubuhnya ke beton pendek yang memisahkan trotoar di seberang Taman Suropati dan sederetan bambu-bambu kecil. Seragam berwarna oranye yang ia pakai nampak kontras dengan warna kelabu trotoar–percis seperti palet warna matahari kesorean yang berhasil menembus kelabu langit berudara beracun di Jakarta.

Dalam obrolan singkat sebelum Pak Jangkung kembali berkeliling untuk membersihkan area sekitar Taman Suropati, kami mempelajari beberapa hal. Pertama, sebagai petugas kebersihan, Pak Jangkung bekerja dalam naungan Kelurahan Menteng bersama timnya. Kedua, taman yang ramai di pagi hari ini mempunyai kehidupan berbeda di malam hari. Orang-orang muda yang entah telah selesai bekerja atau bersekolah kadang bercengkrama di bagian luar sekeliling taman. Bisa jadi sekumpulan teman atau pasangan. Dengan ditemani minuman dari kopling (penjual kopi keliling), mereka mengobrol tentang apa saja. Bisa sampai subuh! Ketiga, turunnya hujan bisa membuat pekerjaan Pak Jangkung menjadi jauh lebih sulit karena daun-daun kecil pohon mahoni yang menempel. Belum lagi sampah membandel yang menjadi basah seperti tisu. Keempat, ia bangga dengan kontribusinya membersihkan area sekeliling Taman Suropati.

“Ya di kita jadi kebanggaan… bisa membersihkan.”

Sebagai pengunjung taman, kami menyaksikan bagaimana taman tersebut begitu hidup. Anak-anak berlarian sambil memainkan gelembung busa. Ayah dan anak bermain bulutangkis dengan alat yang disewa seorang pedagang di pinggir taman. Seorang perempuan menikmati tahu gejrot yang ia beli persis sebelum si pedagang harus beranjak karena sudah bertatap mata dengan Satpol PP. Dengar-dengar, ada komunitas musik yang juga secara berkala berlatih di tengah taman sembari memberkahi telinga-telinga para pengunjung taman. Pak Jangkung dan rekan-rekan kerjanya adalah penyokong segala hiruk pikuk ini. Dan ia berbahagia menjadi bagian dari ruang yang semarak ini.

“Aku kurang suka taman yang ramai,” sahut Elliah. Elliah adalah seorang akuntan muda yang bekerja sembari menyelesaikan kuliah. Percakapan mengenai ruang terbuka dengannya terjadi begitu saja ketika ia mengetahui bahwa kami hendak menuliskan artikel ini.

Walau Elliah senang berpakaian serba hitam, ia berkepribadian seperti bunga matahari. Ia hangat, terang, lantang, dan menggemaskan. Ia menyimpan catatan berisi daftar tebak-tebakan di gawainya yang bisa ia lemparkan kapanpun, tanpa aba-aba, untuk mencairkan suasana. Bahwa ia tidak menyukai dan menghindari keramaian merupakan suatu yang mungkin tidak terpikirkan orang-orang yang berinteraksi dengan Elliah.

Keramaian di ruang publik seringkali memaksa Elliah untuk membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain. Lebih tepatnya, perbandingan perihal keluarga. Keluarga menjadi topik yang cenderung sensitif bagi Elliah yang kini tinggal berdua dengan ibunya. Rasa kehilangannya kerap membuat Elliah merasa kurang dan berbeda. Dijejalkan dengan gambaran ‘keluarga sempurna’ di ruang publik adalah hal terakhir yang ia inginkan. Sentimen ini juga berlaku di banyak tempat selain ruang terbuka hijau, seperti di mal dan tempat makan.

Pengalaman Elliah dan pandangannya terhadap ruang publik bisa jadi dialami banyak orang muda lain. Orang muda perantau, lajang, tanpa orang tua utuh, dalam keluarga berelasi tidak sehat, ataupun yang hidup soliter; sering kali merasa sendiri di tengah ruang publik yang dipenuhi konstruksi sosial akan “keluarga sempurna”. Walau konsep keluarga dari masa ke masa telah berkembang hingga tidak terbatas pada “ayah, ibu, dan anak”, tak bisa dipungkiri bahwa pemahaman mengenai keluarga konvensional sebagai unit sosial terkecil di masyarakat tetap menjadi norma arus utama.

“Aku ga suka kalo terlalu banyak keluarga di taman, tapi aku ngga bisa menghindari itu. Karena taman kan ruang publik ya, mereka berhak untuk ada di situ. Cuma kalo di Cibis populasi pengunjung memang lebih sedikit.”

Bagi Elliah, teman kantor, teman kuliah, dan tetangga adalah keluarganya. Orang-orang yang paling mungkin ia ajak untuk menikmati taman kota di akhir pekan bukanlah komponen keluarga normatif yang stereotipikal, namun orang terdekat yang hampir selalu berinteraksi dengannya atau berbagi hobi yang sama.

Adapun Cibis Park menjadi salah satu ruang terbuka hijau yang Elliah sukai. Tidak begitu ramai dan tenang. Tak banyak stimulan-stimulan pencetus overthinking dan objek perbandingan diri. Sembari berseluncur dengan longboard menyusuri tepi kolam ikan Cibis Park, senyum Elliah yang melebar mengantarkannya melebur ke langit hitam malam.

Tebet Eco Park menjadi pilihan Husna ketika diminta memilih salah satu ruang terbuka favoritnya. Husna adalah orang ketiga yang kami ajak mengobrol untuk penulisan ini. Perempuan yang bergairah dalam memperjuangkan isu “kota inklusif” ini sebenarnya menetap di Solo, tapi sering mondar-mandir ke Jakarta dan Bogor.  Dalam kunjungan-kunjungannya ke Jakarta, ia gemar mengajak teman-temannya untuk bersua di taman.

“Oh, kalo mau ketemu, sekalian aja di taman, dibandingkan mal dan lain-lain… Cari tempat hangout yang lebih ‘kota’.”

Pilihan Husna bukanlah suatu yang tak terduga. Tebet Eco Park merupakan ruang terbuka yang akhir-akhir ini digandrungi warga Jakarta. Pada suatu hari di bulan Mei kemarin, taman ini sempat menampung 60.125 pengunjung–volume yang jelas jauh melebihi kapasitasnya. Sebagai lulusan jurusan Perencanaan Wilayah Kota, Husna mengakui bahwa Tebet Eco Park merupakan gamechanger. Taman ini progresif dalam kehadirannya yang menawarkan taman dengan berbagai fasilitas fungsional seperti taman bermain anak, lahan untuk berbagai acara, tempat berolahraga, kebun dengan ragam flora, hingga bangku dan meja untuk piknik. Terlebih, lokasinya di pusat kota memudahkan akses transportasi pengunjung.

Di sisi lain, saking kelebihan kapasitas pengunjung, Tebet Eco Park harus tutup sementara. Kebanyakan pengunjung taman ini tidak berasal dari Tebet; sebagian besar merupakan warga dari berbagai sudut Jakarta yang meluangkan waktu jauh-jauh datang ke taman yang gratis ini karena tidak ada ruang serupa di sekitar mereka. Padahal, Jakarta mewadahi lebih dari 2.000 RTH yang kira-kira setara dengan tiga kali luas Taman Impian Jaya Ancol jika ditotal. Kejadian ini menyoroti minimnya RTH yang aksesibel dan berkualitas di Jakarta, terlepas dari jumlahnya yang ribuan.

Selain mempengaruhi kualitas hidup warga, minimnya ketersediaan RTH yang memadai dan merata juga mengubah hakikat “piknik” sebagai aktivitas yang seharusnya ramah lingkungan. Dengan jumlah di atas, RTH Jakarta masih tergolong minim karena hanya menduduki 9,4% lahan–jauh dari proporsi 30% menurut UU Penataan Ruang. Terlebih jika dibandingkan dengan bangunan-bangunan komersial yang menduduki 80% lahan. Kita seharusnya bisa dengan mudah menghabiskan waktu luang di taman; dalam artian ruang tersebut mudah diakses, ditemukan di banyak lokasi, dan gratis. Piknik seharusnya adalah aktivitas rendah emisi, terlebih jika dibandingkan dengan aktivitas ngemal atau lainnya yang harus mengandalkan listrik ataupun ongkos lebih. Namun, dengan kelangkaan RTH, “piknik” malah mengharuskan mobilitas yang tinggi.

“Taman yang ideal adalah taman yang gratis.” Kami mengamini suara Husna ini. Namun, jika RTH yang mengagumkan seperti Tebet Eco Park memungkinkan untuk hadir, mengapa harus berhenti di ‘gratis’? Kita bisa melampaui ‘gratis’ dan berhak atas ruang yang juga cantik, berguna, dan inklusif bagi semua.

***

Jakarta ternyata memang mempunyai banyak wajah. Obrolan dengan tiga orang saja sudah mampu menonjolkan warna Jakarta yang beragam. Pak Jangkung bercerita tentang jasa yang senyap. Kontribusi-kontribusi subtil dan “sehari-hari” para pahlawan yang menjadikan Jakarta dirinya, namun jarang kita sadari. Elliah menggarisbawahi gesekan yang bisa hadir di ruang terbuka karena sebuah ruang publik pada dasarnya merefleksikan norma-norma dan standar yang merupakan konstruksi sosial suatu masyarakat. Sedangkan, gagasan-gagasan Husna menyentil benak dan memberi keberanian untuk menuntut ruang-ruang yang lebih baik.

Dari upaya berkenalan dengan Jakarta melalui temuan-temuan di taman, kami dihadapkan dengan sebuah kebingungan: apakah penulisan ini membawa kami mengenal ibukota lebih jauh, atau malah semakin menggarisbawahi ketidaktahuan kami akan banyaknya wajah Jakarta?

**

Artikel ini merupakan bagian dari kolaborasi Highvolta Media dan Pamflet Generasi dengan tema payung “Orang Muda dan Ruang Publik”. Keluaran kolaboratif lainnya bisa dipantau melalui akun Instagram Highvolta Media (@ highvolta_) dan Pamflet (@ pamfletgenerasi).

Referensi:

‘Semakin Lama Tebet Eco Park Tutup Sementara’. (2022). Detik News. Diakses melalui: https://news.detik.com/berita/d-6160511/semakin-lama-tebet-eco-park-tutup-sementara

Azzahra, T. A. (2022). Jakarta Punya 2.556 RTH, Luasnya Setara 3 Kali Luas Ancol. Detik News. Diakses melalui:  https://news.detik.com/berita/d-5880623/jakarta-punya-2556-rth-luasnya-setara-3-kali-luas-ancol

Bustomi, M. I. (2022). Taman Tebet Eco Park Ramai Dikunjungi Warga, Pernah Tembus 60000 Pengunjung Per Hari. Kompas. Diakses melalui: https://megapolitan.kompas.com/read/2022/05/31/17364891/taman-tebet-eco-park-ramai-dikunjungi-warga-pernah-tembus-60000

Lova, C., (2020). Rujak Center for Urban Studies: Hampir 80 Persen Jakarta Tertutup Bangunan. Kompas.com. Diakses melalui: https://megapolitan.kompas.com/read/2020/01/06/21361791/rujak-center-for-urban-studies-hampir-80-persen-jakarta-tertutup-bangunan

Raharjo, D. B. (2021). Tak Sesuai UU Penataan Ruang, Jakarta Baru Punya 9,4 Persen RTH. Suara Jakarta. Diakses melalui: https://jakarta.suara.com/read/2021/03/02/142640/tak-sesuai-uu-penataan-ruang-jakarta-baru-punya-94-persen-rth

Sanner, C., Ganong, L., Coleman, M. (2021). Families Are Socially Constructed: Pragmatic Implications for Researchers. Journal of Family Issues, 42(2): 422-444. DOI:10.1177/0192513X20905334