Menonton Ametis di Semarang, Mengingat Bagaimana Jalur Musik Bandung Masih Bekerja

Menonton Ametis di Semarang, Mengingat Bagaimana Jalur Musik Bandung Masih Bekerja

Foto oleh Danis Ridwan

/1/

Belakangan Semarang diguyur hujan deras yang maraton dari sore hingga tengah malam. Efeknya jemuran tak kunjung kering dan pakaian dalam semakin langka di lemari. Malam 21 November 2021, dan hari sebelumnya, hujan tidak brengsek. Saya jadi memiliki pakaian luar-dalam untuk dipakai menghadiri gig Home Away From Here yang digarap kolektif Gemuruh dan Why Not Us di kedai kopi Glarse Purlieu, Tembalang, Semarang.

Ada Ametis, band chaotic hardcore asal Bandung, yang berkunjung ke Semarang dalam rangkaian “Ritus Hancur Tour 2021” di Jawa dan Bali. Nampaknya tur ini adalah perayaan rilisnya album Ritus Hancur yang tertunda akibat pandemi yang sempat mengganas ketika album ini dirilis.

Album Ritus Hancur dirilis bulan April 2021 lalu. Album penuh pertama Ametis ini cukup menarik perhatian saya. Tentu saja pertamanya karena dirilis dua label asal Bandung yang rilisan mereka selalu saya tunggu; Disaster Records dan Grimloc Records. Namun, Ametis sudah sering saya lihat di beberapa poster gig dan kompilasi di Bandung.

Sayangnya, sekali pun saya belum pernah menyaksikan mereka secara langsung. Hanya sedikit rekaman gig mereka di YouTube yang sempat saya tonton.

21 November sekitar jam 9 malam, setelah penampilan unit stoner Balau dan post-hardcore Vice Versa yang cukup mengesankan, Ametis bersiap-siap untuk tampil. Saya berdiri di depan Ametis penuh rasa penasaran bagaimana Aldit, Rully, Ridwan, dan Sonjaya membawakan komposisi kekacauan mereka. Ridwan menunjuk-nunjuk lampu di atas mereka, memberi isyarat agar lampu dimatikan.

Lampu itu mati. Sekitar jadi temaram. Speaker mengeluarkan dengung agak panjang, suara khas ampli gitar. Dengungan berangsur menebal. Pertanda musik akan segera dimainkan.

/2/

Seorang pria dengan tubuh agak tambun dan kaos putih meminta izin lewat untuk ke bagian belakang penginapan. Pria berkacamata dan kepala agak botak itu lewat lagi, menuju tumpukan tas dan kardus di dekat pintu masuk. Tidak lama, ia lalu membagikan gambar tempel ke beberapa orang di dalam ruangan itu. Gambar tempel bulat dengan latar hitam dan artwork merah bertuliskan “Ametis”.

Dari sana saya yakin, dia adalah salah satu personil Ametis. Benar saja. Aldit, pria tersebut, adalah pengolah tenggorokan dari Ametis. Setelah bagi-bagi gambar tempel, kami berbincang di penginapan tempat rombongan Ametis istirahat pada malam sebelum gig mereka di Semarang.

Di kelilingi warga lokal saat berkunjung ke suatu tempat, seringkali kita mesti menjadi duta besar dadakan. Malam itu, Bandung dan segala tetek bengeknya sempat menjadi tema obrolan Aldit dan beberapa kawan walok Semarang. Saya tidak banyak membantu. Sudah tiga tahun saya tinggal di Semarang dan hanya beberapa kali pulang. Kondisi Bandung menjadi agak asing bagi saya. Bahkan, saya sering menjadi orang yang bertanya tentang Bandung saat ini kepada Aldit.

Ingatan saya terbawa pada suatu malam di sebuah warung kopi di bawah Jembatan Pasopati dekat skatepark Taman Film Bandung. Malam itu saya bersama beberapa kawan sedang rapat rutin perencanaan Bandung Zine Fest 2018. Ichan, salah seorang kawan penyelenggara, mengabarkan bahwa ia tidak bisa ikut pertemuan berikutnya sebab akan menemani band bernama Ametis yang akan manggung di luar kota.

Tidak hanya sekali Ichan menyebut nama Ametis. Ada beberapa kesempatan mengobrol di mana Ichan menyebut nama band ini. Ingatan itu membuat saya menanyakan perihal Ichan dan Ametis pada Aldit.

Aldit menceritakan bahwa ia mengenal Ichan sejak lama. Aldit dan Ichan karib sejak SMA. Pada masa itu, mereka pernah membentuk satu band yang memainkan hardcore. Sayang band itu tidak berlanjut sebab para personilnya mulai sibuk dengan urusan masing-masing. Aldit sendiri saat itu baru memulai kuliah. Beberapa tahun berlalu, kini Aldit dan Ichan bekerja di tempat yang sama, salah satu clothing line asal Bandung yang cukup terkenal.

“Terus Ichan teh di Ametis sempet jadi manajer apa gimana, Mang?” tanya saya pada Aldit.

“Bantu-bantu aja dia mah, da temen,” jawab Aldit. Saya hanya menangguk dan mengucap “ooh” yang panjang seperti orang tolol. Namun di dalam hati saya berucap, “Bisa sejauh itu bantu-bantu atas nama pertemanan.”

Obrolan berlanjut panjang. Berbatang-batang rokok kami habiskan selama berbincang tentang banyak hal. Mulai dari Ametis yang berdiri sejak 2015 dan pernah berganti-ganti personil, proses rekaman album Ritus Hancur,tempat tinggal Aldit, kabar skena musik Bandung yang terus bergeliat, juga kabar beberapa teman yang ternyata saling kami kenal. Bahkan, hal-hal remeh turut kami bicarakan – yang nantinya membawa ke obrolan seru.

“Semejak di Semarang teh saya sering nemu rokok-rokok aneh, tapi enak,” ujar saya sambil meloloskan sebatang Country dari bungkusnya. Rokok Country saya temukan satu setengah tahun sebelumnya sebagai alternatif murah tembakau American Blend.

“Saya teh pernah berhenti ngerokok satu tahun, Mang” ucap Aldit.

“Kenapa, Mang?”

“Waktu itu kecelakaan. Sampe tulang kaki patah. Sempet pake tongkat kaki kalau mau jalan teh.”

“Kapan itu teh?”

“Tahun 2019”

“Berarti pas masih proses rekaman atuh?” heran saya.

“Iya, masih rekaman. Jadi rekaman teh kondisi kaki masih parah.”

Aldit menceritakan bagaimana dengan kondisi seperti itu, ia masih banyak bergerak. Tidak hanya banyak bergerak, ia juga melakukan hal-hal pantangan dokter selama pemulihan kondisi kakinya. Hanya satu yang tidak ia langar; merokok. Sebab merokok akan sangat berpengaruh buruk pada proses pemulihan tulang kakinya.

Sekitar pukul dua dini hari, kami berpindah dari dalam penginapan ke teras tempat beberapa kawan mengobrol. Lalu saya dikenalkan dengan Danil Cimpoda, road manager tur saat itu. Ditambah kehadiran Danil, obrolan kami makin merambat ke mana saja, mulai dari urusan musik, Bandung, hingga nasi kuning yang akan kami santap subuh itu.

Penginapan di depan SMP Al-Azhar 14 Semarang itu semestinya jadi tempat istirahat rombongan Ametis setelah manggung di Boyolali. Namun, yang terjadi adalah obrolan ngalor-ngidul teu paruguh semalam suntuk hingga matahari menjadi musuh bersama. Jam 6 pagi saya undur diri ke kontrakan untuk istirahat dengan perasaan yang cukup gembira.

Selain karena memiliki kenalan yang sama di Bandung, keramahan Aldit dan Danil membuat saya cukup nyaman berlama-lama ngobrol dengan mereka. Terutama Aldit, sosok dan sifatnya yang ramah dan murah senyum membuat saya lupa pada betapa kelamnya album Ritus Hancur, tempat Aldit menjerit-jerit sepanjang 32 menit.

/3/

Saya berdiri tepat di depan Ridwan memainkan gitar dan di samping speaker saat Ametis siap memainkan lagu-lagu mereka. Setelah cahaya temaram dan dengung ampli yang panjang, Ametis memainkan lagu pertama mereka. Para penikmat lantai dansa mendadak kesurupan. Circle pit menjadi kian mengerikan. Orang-orang pogo seperti babi buta yang mabuk. Makin lama mereka makin liar.

Di pertengahan lagu keempat yang dibawakan Ametis, gerombolan pogo liar itu makin keranjingan sampai menabrak speaker yang berada sebelah kiri saya. Speaker itu hampir jatuh dan rusak. Untung saja ada tanaman yang menahan sebentar sebelum beberapa orang di dekat sana menyelamatkan. Tidak lama dari sana, saya sempat melihat seseorang menaiki tiang di samping stage. Beberapa detik ia melakukan pool dance kualitas buruk, lalu stage dive ke geromnolan pogo.Entah alkohol apa yang membangkitkan gairah bajingan mereka.

Tentu saja. Apalagi jawabannya kalau bukan guyuran alkohol dalam bentuk komposisi-komposisi chaotic Ametis. Musik yang begitu agresif dan memekakan telinga. Musik yang menggiring andrenalin ke ujung setiap kepalan tangan dan siku yang menyikut dengan brutal, juga menyeret amarah ke pangkal tenggorokan yang kering untuk berteriak sepanjang penampilan Ametis.

Tetapi, tidak ada yang bisa mengalahkan Aldit malam itu. Siapapun yang sudah mendengarkan album Ritus Hancur pasti mafhum bagaimana Aldit menjerit di setiap lagunya. Ia seperti meneguk berbarel-barel amarah dan kepedihan sebelum bernyanyi lalu memuntahkannya ketika berhadapan dengan microphone.

Malam itu, Aldit yang ramah dan hangat menghilang. Aldit yang menyanyikan “Unloved and Slaughters Vows”, “Perlahan Mampus”, “Ritus Hancur”, dan “Menjadi Negasi” berbeda dengan Aldit yang saya ajak ngobrol malam sebelumnya.

Setiap membuka mulut untuk menjerit, uratnya terlihat siap putus. Setiap lagu akan dibawakan, bibirnya cemberut. Tidak ada lagi senyum terpacak di wajahnya. Setiap terdengar dengungan ampli tanda sebuah lagu siap dibawakan, wajahnya yang cemberut bersanding dengan tatapan beku yang menatap tajam siapapun. Entah batu apa yang mengasah tatapan setajam itu.

Penampilan Ametis ditutup dengan track “Menjadi Negasi”. Lagu ini lebih lambat dibanding nomor yang lain. Ada riff post-metal yang mengisi penghujung komposisi. Sayang, Acil Fardiaz tidak hadir. Vokalis unit post-hardcore Wreck itu menyumbang deklamasi menjelang penghujung komposisi. Malam itu, hanya dengungan ampli dan riff menyayat dari gitar Ridwan yang mengambil peran.

Tiba-tiba, salah seorang panitia, seorang vokalis salah satu band hardcore muda Semarang, menghadap microphone dan melengkingkan suara cemprengnya untuk menyanyikan entah apa. Saya terganggu di sana. Padahal bagian ini, meski tidak diisi deklamasi Acil, cukup penting untuk dibiarkan nirvokal. Telinga saya tidak senang mendengar “serobotan” ini. Tapi entah, mungkin saya saja yang berlebihan.

Selesai sudah penampilan Ametis.

Semua imaji kelam, gelap, dan kekacauan dalam album Ritus Hancur dan sekujur diskografi Ametis muncul dalam aksi langsung mereka. Kelam seperti nama tengah setiap personil Ametis.

Imaji kegelapan, kelam, putus asa, dan berhadap wajah dengan kiamat sedang banyak muncul di band-band di Bandung. Untuk menyebut beberapa, silakan kunjungi rilisan-rilisan tahun ini dari Sacred Witch, Ourbliss, Domesticrust, dan Arrived Consilium. Juga lihat sesi daring dari GLXS 3.0 Beta Version di channel YouTube PARA.

Dugaan awal, tentu saja, kekelaman ini hadir karena kondisi pandemi yang menyerupai gulungan kiamat dengan kita berada di tengahnya. Namun, dari obrolan awal dengan Aldit bahwa album ini digarap sejak 2018, membuat tebakan itu tertepis dan membuat rasa penasaran lebih naik lagi.

Pada sesi wawancara sebelum gigs bersama beberapa rekan jurnalis Wadah Pewarta Musik Semarang (WPMS), saya menanyakan hal ini. Menurut Aldit dan Ridwan, imaji kelam memang sengaja mereka pilih. Imaji seperti itu dirasa cocok dengan musik yang mereka mainkan. Lirik-lirik yang ditulis Aldit pun berasal dari pengalaman personalnya yang ia tulis, lalu ia diskusikan dengan personil lain.

Namun, nampaknya ada faktor lain yang membuat segala kehancuran melekat pada musik-musik yang mereka buat.

“Mungkin karena Bandung kayanya adem-adem aja, tapi kotanya nggak baik-baik aja, jadi ngelahirin lirik yang kaya begitu,” ucap Danil Cimpoda. Aldit mengangguk dan mengucap “ya” tanda setuju pada pernyataan Danil.

Danil dan Aldit menyebut penggusuran di Tamansari dan Dago Elos yang ramai beberapa tahun lalu. Dalam merespon rencana penggusuran tersebut, warga setempat bersama beberapa kolektif di Bandung menyelenggarakan Festival Kampung Kota pada 2017 dan 2019. Dalam festival tersebut ada pertunjukan musik, pameran seni visual, diskusi dan dialog, dan yang paling penting; membawa orang-orang pada titik-titik api untuk melihat langsung krisis di depan mata dan bisa bertemu sambil berkoneksi satu sama lain.

Ametis turut tampil dalam dua helatan Festival Kampung Kota juga beberapa kali berkunjung ke Tamansari. Mereka bermain dengan band dan musikus lain untuk meramaikan titik api penggusuran sebagai respon atas kondisi krisis di kota mereka sendiri.

“Tapi musik nggak ada tanggung jawab ke situ, ya. Cuman, hati nurani kita di satu skena dan ada hal yang nggak baik-baik aja di kota kita masa diem?” ucap Danil.

/4/

Sepanjang dua hari menjalani waktu dengan Ametis, satu hal kecil yang sangat berkesan pada saya; saya bisa memanggil lawan bicara laki-laki dengan sebutan “Mang”. Sebutan yang punya fungsi seperti “brad”, “bro”, “bre”, “coy”, dsb. Hanya saja, sejauh pengetahuan saya, kata “Mang” dalam bahasa Sunda berarti “Paman”.

Kata “Mang” sering terdengar di lingkarang tongkrongan anak muda dan gig-gig di Bandung. Baik untuk panggilan akrab ataupun penghormatan. Yang begitu menyenangkan, saya bisa memanggil “Mang” pada Danil, Aldit, Chris, dan gerombolan personil dan kru Ametis yang lain lengkap dengan suasananya. Suasana kekerabatan dan pertemanan yang sama ketika dahulu saya mulai sedikit bergiat di subkultur musik di Bandung.

Meski “Mang” berarti “paman” dan cukup sering dimaksudkan untuk orang yang dihormati atau lebih tua, rombongan Ametis memanggil saya dengan panggilan yang sama dan bertahan sampai saat ini ketika berbincang lewat obrolan media sosial. Padahal, mereka jauh lebih tua dari saya. Pengalaman yang saya rasakan tersebut adalah pengalaman yang sama ketika beberapa kenalan scenester Bandung “senior” juga memanggil “mang” kepada saya.

Menjalani dua hari bersama Ametis membuat saya mengingat kembali bagaimana skena musik Bandung terbentuk: hadir dari tongkrongan dan pertemanan, walau terdapat perbedaan latar belakang, selera musik, juga jarak umur yang lumayan jauh antarpelakunya. Ingatan saya soal Bandung adalah geliat-geliat yang berasal dari tongkrongan dengan semangat Jabat-Erat-Tangan antarpelaku subkultur musik. Semangat yang terus coba dijaga dan dibawa sampai titik mentok meski banyak halangan dalam penerapannya. Hal-hal yang rasanya hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah merasakan bagaimana keseharian para pelaku musik di Bandung dan mencari tahu lebih dalam apa yang terjadi di sana. Hal-hal yang nampaknya tidak diketahui oleh Oom Leo, Vincent, Desta, apalagi Ardhito Pramono.