Melihat Lebih Dekat Musisi Jalanan Jakarta dan Yogyakarta

Melihat Lebih Dekat Musisi Jalanan Jakarta dan Yogyakarta

Nafilah Safitri dan Ken Penggalih

Musisi jalanan cenderung lazim ditemui oleh kita yang tinggal di wilayah perkotaan. Mereka dapat kita temui di berbagai ruang publik seperti trotoar, taman, halte, perempatan lampu lalu lintas, juga di transportasi umum. Alat musik yang mereka gunakan pun beragam, mulai dari alat musik sederhana seperti kecrek, botol air mineral yang diisi dengan butiran beras, sampai ke alat musik tradisional dan modern seperti angklung, gitar, dan set pengeras suara portable yang memudahkan pertunjukan mereka.

Selain keberagaman dalam pemilihan lokasi dan alat musik, perjalanan dan pengalaman musisi jalanan tidak kalah beragam. Kisah orang-orang yang kerap kita lewatkan begitu saja ini rasanya patut untuk didalami, terlebih karena belakangan ruang publik yang menjadi wadah musisi jalanan tampil tengah mengalami banyak perubahan di tengah agenda-agenda pembangunan. Artikel ini mengajakmu mendengarkan kisah musisi jalanan di Jakarta dan Yogyakarta.

Pengamen Jakarta di tengah Arus Modernitas

Di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur, dua orang musisi jalanan sedang ‘tampil’ di salah satu perempatan lalu lintas. Sebut saja Agus dan Anton. Mereka sudah cukup lama berada di jalanan sebagai musisi, alias ngamen. Reformasi 1998 menjadi awal mula mereka menjalani hidup sebagai pengamen. Dampak huru-hara yang terjadi selama kerusuhan Mei 1998 menyebabkan banyak pegawai kehilangan pekerjaan, termasuk Agus dan Anton.

Mulanya, mereka mengamen dari satu bus kota ke bus kota lainnya. Berpindah-pindah mengikuti rute angkutan umum tersebut sebelum tergantikan oleh moda bus Transjakarta. Dari Pulo Gadung, Tanjung Priok, hingga Blok M. Bagi yang berpengalaman menikmati angkutan umum seperti Metromini, Kopaja, dan bus kota PPD pasti akan bertemu pengamen yang sudah berlangganan untuk menghibur penumpang sebagaimana Anton dan Agus.

Anton yang merupakan warga Jakarta asli, bercerita bahwa sebelum mereka mangkal di perempatan lalu lintas, pendapatan mereka dari hasil mengamen di bus kota justru lebih besar dibanding dengan pendapatan mereka kini ketika ngamen dengan mangkal di satu tempat. Meskipun sebenarnya menjadi musisi jalanan bukan satu-satunya pekerjaan mereka, namun mengamen sudah menjadi aktivitas yang menjadi sumber penghasilan mereka di saat pekerjaan mereka yang lain telah selesai atau putus kontrak.

Ngamen sudah menjadi side hustle paling memungkinkan bagi Agus dan Anton, tapi bukan berarti saat mereka mengamen tidak menemui tantangan sama sekali. Bagi mereka, tantangan musisi jalanan bukan hanya soal pendapatan, tapi perihal ruang gerak dan keleluasaannya. Bus kota tempat mereka ngamen di masa lalu, sudah terganti moda transportasi yang melarang adanya pengamen, sehingga mau tidak mau mereka memilih mencari satu tempat untuk tampil. Di sela-sela waktu tampilnya, ada ketakutan jika pasukan Satpol PP mulai bergerilya menertibkan pengamen. Ada resiko “dipenjara”, seolah yang mereka lakukan adalah bentuk kriminalitas. Dalih penertiban di ruang publik nyatanya merenggut ruang mereka untuk mencari penghasilan namun tidak diiringi dengan solusi yang sesuai. Mereka ditertibkan, direhabilitasi [1] di tempat yang kurang layak, lebih mirip sel untuk seorang kriminal.

“Katanya sih direhab, tapi tempatnya pake jeruji, padahal kan kita bukan kriminal. Dikasih makan nasi pake tempe segini-gini doang (sambil menunjukkan ukuran ruas jari)…” – Anton

Bersyukur jika anggota keluarga mereka atau kerabat ada yang bersedia menjadi penjamin, dalam satu hari mereka bisa keluar dan bebas. Jika tidak ada, mereka bisa direhabilitasi hingga satu bulan lamanya. Dari hal ini, tantangan terbesar justru hadir dari lembaga yang seharusnya melindungi dan memberikan solusi agar proses penertiban tidak merampas ruang-ruang mereka untuk mencari penghasilan. Dalam komunitas mereka, tidak ada premanisme, tidak ada bagi-bagi wilayah dan jatah ngamen, yang ada hanya saling respek dan menghormati untuk wilayah yang sudah biasa ditempati Agus dan Anton, maka musisi jalanan lainnya mencari wilayah berbeda sebagai tempat tampil. Di sisi lain, modernitas rupanya juga tidak melulu merampas ruang gerak mereka sebagai musisi jalanan. Mereka juga cukup adaptif dengan perkembangan teknologi. Agus yang sudah memiliki lagu sendiri, juga memanfaatkan media sosial seperti Tik Tok untuk untuk memperdengarkan lagunya. Lagu yang ia buat, dijadikan sound atau suara latar untuk video-video Tik Tok yang diunggah pengguna lain.

Angklung Arieska Jogja: Musikku, Budayaku

Jalan Malioboro, sebuah kawasan wisata yang sangat legendaris di Yogyakarta dan menjadi “destinasi wajib” bagi wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Di sepanjang Jalan Malioboro, kita dapat menemui berbagai aktivitas unik dan menarik, salah satunya adalah penampilan dari komunitas musisi jalanan. Kurang rasanya jika tidak menonton penampilan musisi jalanan ketika berjalan-jalan di kawasan ini. Angklung Arieska Jogja merupakan komunitas musisi jalanan yang dapat ditemui di Jalan Malioboro, tepatnya di Gedoeng Merah Malioboro. Selain menampilkan musik angklung, mereka juga menampilkan penari yang menari diiringi dengan musik angklung. Uniknya lagi, Angklung Arieska Jogja merupakan satu-satunya komunitas angklung di Jogja yang memiliki anggota perempuan.

Firman, pendiri komunitas Angklung Arieska Jogja, bercerita bahwa komunitas ini berangkat dari kecintaannya terhadap kesenian tradisional Jogja. Firman mendirikan Angklung Arieska Jogja delapan tahun yang lalu dengan harapan bahwa mereka dapat menghibur sekaligus mengenalkan kesenian tradisional Jogja kepada para wisatawan di Jalan Malioboro. Ia kemudian merekrut orang muda yang memiliki ketertarikan terhadap kesenian tradisional Jogja untuk menjadi anggota komunitas Angklung Arieska Jogja.

Selain bermain musik angklung di Jalan Malioboro, Angklung Arieska Jogja juga bermain musik ketika mendapat undangan. Mas Firman bercerita bahwa salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi komunitas Angklung Arieska Jogja adalah ketika mereka diundang untuk bermain musik angklung di pantai Kuta, Bali.

Ketika ruang-ruang publik semakin berkurang dan orang muda lebih memilih untuk berkesenian secara modern, komunitas Angklung Arieska Jogja tetap memilih untuk melestarikan kesenian tradisional di ruang publik. Selain itu, komunitas Angklung Arieska Jogja menjadi salah satu komunitas yang turut meramaikan dan mewarnai dinamika interaksi orang muda di ruang publik dengan kesenian tradisional. Semangat komunitas Angklung Arieska Jogja untuk terus berkesenian tradisional di ruang terbuka ini patut untuk diapresiasi.

***

Artikel ini merupakan bagian dari seri “Adu Nasib Musisi Jalanan” yang meliput hiruk-pikuk musisi jalanan di Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung dalam kolaborasi Highvolta Media dan Pamflet Generasi dengan tema payung “Orang Muda dan Ruang Publik”. Simak kisah musisi jalanan Bandung di sini.

Keluaran kolaboratif lainnya bisa dipantau melalui akun Instagram Highvolta Media (@/highvolta_) dan Pamflet (@/pamfletgenerasi).