Highvolta

INTERVIEW: ERWIN KOBOI BANJARAN

TIDAK ADA YANG MENJENUHKAN DARI BERPROSES KREATIF


Pewarta: Muhammad Hilmy Fadiansyah

 

“Dengan ini, saya nyatakan The Panas Dalam bubar!”

Pada malam singkat di Villa Merah, Bandung. Kami berkesempatan ngobrol bersama Kang Erwin, si vokalis The Panas Dalam, yang menjuluki dirinya sebagai Koboi Banjaran, pengajar saya dari Bandung Selatan yang melancong ke kota.

Bicara tentang pergulatan dalam berkarya, setiap orang selalu memiliki cara rehealsal-nya sendiri, dalam berproses dari awal sampai selesai pekerjaan. Disini Kang Erwin bercerita bagaimana terbentuknya The Panas Dalam, kumpulan elemen-elemen yang dimasukan dalam materi berkarya The Panas Dalam, juga mengingatkan kita bagaimana proses kreatif dan ideal yang sangat sederhana.

 

The Panas Dalam resmi berdirinya tahun berapa, Kang?

Kalau tahun berdiri versi saya dan si ayah beda. Kata si ayah, The Panas Dalam mengawali karir dari tahun ’95. Nah kalau saya sendiri bergabung, walaupun yang saya tahu berdiri itu tahun ’98, mungkin karena saya terlibat langsung dan penamaan The Panas Dalam pun ada waktu tahun ’98, waktu proyek penurunan Soeharto, waktu chaos-chaosna... hahaha.

Memang waktu itu, barudak Panas Dalam terlibat turun langsung ke jalan pas demo?

Beberapa teman ada yang terlibat, ya saya sendiri juga melihat langsung gimana teman-teman dipukulin, enek lah liatnya. Sempet ada cerita, waktu itu saya pinjem kamera temen, harganya kira-kira 3jt, dulu lumayan kan 3jt mahal pisan. Motret-motret ­naik ke tiang spanduk, biar aman.. tapi gatau kenapa tiba-tiba ada pentungan, dilempar ke arah saya, prak! Labuh tah kamera..  ngagantian tah, 3jt jaman harita tea.. timana.. eta teh dek dijual, ku saya dirusak, hahaha.. Nah pada saat itu, kita kembali ke kampus, daripada lieur dijalan. Kita nogkrong aja di studio lukis (FSRD-ITB), ada jendela besar, nonton aja dari situ. Dari situ si ayah muncul, dia sering bawa-bawa puisi atau syair, seiring banyaknya karya tulis si ayah, iseng-iseng aja ku barudak dibikin lagu, spontan. Nah pas bagian lagu kuntilanak, eh ieu ngeunaheun oge.. dari situlah saya tahu adanya The Panas Dalam, walaupun belum resmi.

Berarti, demo ’98 sangat berpengaruh sampai lahirnya The Pasas Dalam ya, Kang?

Disebut berpengaruh sih engga juga, cuman gara-gara kebetulan aja, mereka yang ikut-ikut kita.. hahaha. Sebenernya gini, awal dari nongkrong bareng, gigitaran, kaya si Roim dari studio grafis, si Ayah, Deni, ngumpul biasanya di studio lukis. Seiring aja, gitu, berdirinya juga.

Awal terbentuk, personil pertamanya siapa aja, Kang?

Waktu pertama mah masih yang kolot-kolot lah, si Ages, Pidi, Saya, Deni, Roim, terus si Ninu. Ninu itu vokalis pertama, saya belum jadi vokalis, masih main gitar. Nah akhirnya karena keseringan nongkrong sama udah bikin beberapa lagu, sampailah dibawa ke Villa Merah, karena dari dulu kita udah nongkrong disini. Nah, Ninu itu, termasuk yang kontribusinya banyak, kaya suka nambahin lirik lagu, nu jadi nambah ngaco, tapi lumayan lah.. haha. Setelah suka gembreng-gembreng beberapa lagu, yang dianggap layak ada sekitar 5 lagu lah, yang kalau diulang teh udah hapal. Mulailah kita rekaman, dulu di Studio Kana, yang di Jalan Purnawarman.

Kapan awal pergerakan The Panas Dalam mulai manggung?

Pertama kita diajak manggung itu sama temen, anak seni rupa juga, maen di SABUGA (Sasana Budaya Ganesha), wah reuwas kan. Awalna kita mau nolak, tapi karena temen jadi yaudah hajar aja, dan langsung disodorin uang dp, 4jt waktu itu. Satu acara bareng DEWA 19, seneng kan pertamanya, ternyata kita mah manggung diluar, di pelataran SABUGA-nya... hahaha. Setelah manggung disitu, kita dapat tawaran lagi, siaran di radio, Radio Garuda. Kita dikasih slot dari jam 10 sampai jam 12 malam, terserah mau ngapain aja. Dikasih nama The Panas Dalam sialan, bukan siaran, haha.. acara ngaco pokonya mah.

Nah Kang, kan The Panas Dalam kumpulan mahasiswa seni rupa semua, kepikiran terjun bermusik darimana?

Ya karena punya lagu aja, hahaha.. Punya lagu dan kita tidak punya tuntutan apa-apa.

The Panas Dalam di masyarakat kan dikenalnya sebagai musisi, tapi masih intens berkarya sebagai seniman rupa juga, beda sama band yang lain. Sampai sekarang masih bermain musik, tanggapannya gimana, Kang?

Sebetulnya dari kita suka main musik aja, ya gitu lah, kaya si Deni, dia dianggap bisa melodi, padahal mah gitu-gitu aja. Jadi kita buat band bukan karena pemain musik, atau jago main musik, tapi karena kita punya syair, dan kita anggap itu adalah karya kita (syair buatan si ayah), kita beraniin lah buat rekaman. Wah bangga pisan waktu udah jadi, sekitar 5 lagu kita rekam, yang akhirnya tersebar entah kemana hasil rekamannya, tanpa kita jual. Singkatnya berkarya dalam musik dan rupa sama aja lah, sama-sama ada passion-nya.

Setelah terbentuk dan serius menggarap The Panas Dalam, apakah ada kesulitan buat nyiptain lagu sama ngebentuk chemistry si Pandal itu sendiri? Kan dari sisi pekerjaan sama usia cukup berbeda-beda, Kang.

Saya juga aneh sebetulnya, hahaha. Jadi gini, karena kita menikmati apa yang kita kerjakan dalam si Panas Dalam ini, jadi engga ada keterpaksaan sama sekali untuk melakukannya. Mungkin itu juga yang disebut proses kreatif yang ada disini,yang tidak harus disengaja. Kalau kata Pidi Baiq mah, orang kreatif itu tidak bertujuan ingin kreatif dan tidak ada niat untuk berkarya, guluyur weh, tapi itu serius mengerjakannya, berdasarkan pemikiran dan bertujuan. Seperti Pidi menciptakan lagu-lagu Pandal karena udah enek sama lagu-lagu yang mainstream, dan kita setuju semua.

Pandangan masyarakat umum kan The Panas Dalam identik banget sama Pidi Baiq, peran personil yang lain gimana?

Memang gak bisa dipungkiri kalau si ayah sangat identik, karena dia yang dari awal dan sebagai Imam Besar Panas Dalam, terus lagu-lagunya juga lagu Pidi. Tapi setiap personil juga ada perannya masing-masing, contoh salah satunya kenapa si Iwan sampai disebut database sama si Ayah, karena si Iwan itu gapernah nyatet, tapi inget wae. Makanya gawat mun eweuh si Iwan, bisa-bisa poho kabeh, hahaha. Dan kita juga merasa nyaman dengan apa yang Pidi ciptakan.

Ngomong-ngomong tentang lagu, sebagian lagu Panas Dalam bertemakan mahasiswa, pengaruh terbesarnya apa?

Kuat sekali sih pengaruh kampus, karena kita lahir juga di kampus, terus berisi tentang teman-teman juga. Yang saya paling suka itu lagu Roim, karena lagu itu sangat terjadi di kehidupan saya, haha. Selain kental dengan kehidupan kampus, kita juga sering melihat, dan menjadi obrolan, kenapa mahasiswa sekarang kok kaya ”gini”, banyak yang manja, ngehambur-hamburin uang, melakukan hal yang gak perlu lah. Makanya di lagu Mars Mahasiswa, ada lirik yang “uangnya untuk kami”, itu kan satu ledekan sebenarnya. Perasaan risih kita akan kehidupan kampus sekarang aja sih.

Kang Erwin kan mengikuti juga perkembangan musik sekarang, tanggapan Akang gimana? Apakah ada perbedaan dengan berproses a la Panas Dalam?

Nah.. sempat ada kontroversi ketika band jalan sendiri, dan Pidi jalan sendiri. Pidi ngajak orang untuk jadi manager Panas Dalam, ternyata kacau, dia jual Panas Dalam dengan cara konvensional, yang ngebuat kita jadi kaya selebritis, saya jadi ngerasa ga nyaman. Lalu pernah juga satu waktu kita main di acara tv, acara pelawak kalau ga salah, kita disuruh tampil membawakan lagu orang lain, kan aneh pisan kitu. Darisitu Pidi langsung -jaman friendster- nulis status “dengan ini, saya nyatakan The Panas Dalam bubar!” tanpa konfirmasi ke yang lain, reuwas kan, saya jadi bingung karena harus menjembatani apa yang dimaksud Pidi sama bicara ke anak-anak lain (Iwan dkk). Ternyata setelah ngobrol dengan semua, maksud yang ditulis oleh Pidi itu kembalikanlah The Panas Dalam yang dulu, karena kita main band bukan seperti ini pencapaiannya. Karena dulu Pidi kan gatau kalau dengan kita “menjual” band secara komersil itu akan berdampak seperti ini.

Intinya setiap band itu punya tujuan masing-masing, ada yang ingin terkenal, ingin keren, atau yang lainnya. Seperti The Panas Dalam bermusik karena kita merasa ada “sesuatu” dalam bermusik itu, bukannya kita ingin sok eksklusif, tapi kita ingin menjadikan musik sebagai  ungkapan berekspresi, alat untuk menjalani hidup, sebagai karakter setiap orang. Sebetulnya bukan cuma musisi, tentara juga, guru juga, ya sama-sama mempunyai tujuan pada bidangnya masing-masing. Saya tidak menyalahkan lah dengan keadaan dunia musik jaman sekarang, tapi saya mah gamau kayak gitu, karena setiap orang kan punya pencapaiannya masing-masing.

Seberapa pentingnya The Panas Dalam menurut Akang?

Sangat penting, saya rasa penting sekali, karena sudah menjadi keluarga, dan ada sesuatu yang saya banyak belajar selama saya di Panas Dalam. Termasuk dalam dunia berkreasi juga, dan sangat rame menurut saya mah, saya dulu 2 jam naik angkot dari Banjaran cuma buat ngeband dan pulang ga bawa apa-apa, tapi ya happy aja, istri juga mendukung.

Dalam bermusik, setiap orang harus idealis, setuju Kang?

Harus kalau idealis, karena itu karakter, boleh lah kalau mau ngeband bertujuan untuk uang, tapi awalnya jangan itu dulu. Idealis itu kan berbeda-beda setiap orang, sesuai dengan tujuannya aja, tetapi jangan sampai merugikan orang. Yang pasti, idealis dalam berkreatifitas itu ga ada rumusnya, menurut saya kreatifitas itu bagaimana kita bisa memecahkan masalah dengan kapasitas masing-masing, karena sesuatu yang jujur itu akan menjadi besar jika kita terus asah.

Terakhir, Kang. Cara berproses kreatif yang “baik” menurut Akang seperti apa?

Dalam kreatifitas, kita harus tahu dulu seberapa jauh pencapaian kita, apa tujuan kita, lakukan itu dengan kapasitas masing-masing. Karena apa yang kita lakukan sehari-hari itu adalah prpses kreatif, berkreatifitas itu tidak ada batasnya. Boleh lah kita menjadikan banyak sosok sebagai influence kita, tetapi harus tahu batasnya, karena akan jadi negatif kalau sampai jadi plagiat. Seperti kita membawakan lagu Bon Jovi, ya bawakan dengan cara kamu, jangan jadi John. Ya lakukan dengan jujur dan jangan mengganggu orang lain lah, haha.

Latest Articles