Highvolta

INTERVIEW: MUFTI PRIYANKA

POSISI ZINE SEBAGAI JEMBATAN MEDIA SOSIAL


Pewarta: Muhammad Hilmy Fadiansyah

        

        Mufti Priyanka, atau yang kita kenal dengan nama Amenkcoy, Bandung Timur Boys. Seorang perupa, yang karyanya sudah sangat identik dengan ciri khasnya, menjadikan tinta china sebagai senjata andalan. Seorang dosen juga di salah satu Universitas Swasta di Bandung, yang sekarang beliau sering mengisi acara menjadi pembicara. Juga memenuhi satu slot posisi di band fenomenal, A Stone A.

        Membahas karya Amenk tidak terlepas dari soal literasi, hampir pada setiap karyanya ada sebuah kutipan yang disematkan. Kita tahu semua kutipan termutakhir nya yaitu “Pemerintah Kontol”, savage! dan masih banyak lagi kutipan-kutipan antik lainnya.

        Sementara ini, kita tahu Amenk membuat sebuah zine yang namanya Sleborz, aktivitas Amenk memproduksi zine sudah dilakukannya dari awal 2000an. Yang terakhir dibuat yaitu pada saat pameran “Bandung Re-Emergence 2017” di Selasar Sunaryo, yang termasuk pada karyanya.

        Amenk sendiri sangat concern dengan dunia media, memperhatikan gerakan serta perkembangan apa saja yang terjadi. Mengikuti bagaimana media yang terus berkembang seiring pertumbuhan teknologi, serta perkembangan isu yang terus menarik dirinya untuk selalu digali dan diikuti.

 

Kang Amenk sebagai pemerhati aktivitas komunitas, perubahan apa yang paling dirasa dari dulu sampai sekarang?

Anjir pemerhati, emangna urang *******.. hahaha. Ngomongin komunitas ya pasti ngomongin pergerakan, aktivitas apa yang dilakuin si komunitas tersebut. Dulu, yang saya rasain sangat penting untuk bergaul dan bertemu banyak orang, karena mungkin kebutuhan akan banyak hal, entah itu soal perkaryaan, atau berbagi pengalaman, ya meluaskan jaringan lah. Aktivitas yang dilakuin juga banyak, terutama yang saya jalani ya di bidang seni rupa.

Kalau sekarang, sebetulnya masih sama, enggak banyak pergerakan yang berubah, cuman bentukan medianya aja yang makin berkembang. Kalau dulu temen-temen lebih komunal, kalau sekarang mungkin karena kita ada di area yang easy going, ya rasanya semua dimudahkan, tapi jadi kurang banyak bersilaturahmi.

 

Melihat dinamika media hari ini seperti apa sih, Kang?

Untuk hari ini, yang sementara saya amatin pertumbuhan dan perkembangannya banyak, bukan soal produksi dan konsumsi aja, tapi banyak juga pergerakan-pergerakan yang sifatnya orang sudah terbuka dengan aspek-aspek yang.. misalkan, mereka sudah sadar dengan pentingnya packaging buku atau media literasi mandiri yang memang bisa punya nilai lebih. Jadi bukan hanya di ranah budaya anak-anak yang sudah terbiasa dengan media independent yang kita tahu, tapi juga semakin luasnya jaringan yang tertarik pada ranah ini.

 

Oke bicara tentang media berbentuk zine, awal ketertarikan Kang Ameng sendiri mulai darimana?

Awal ketertarikan mungkin karena keterbatasan “media” pada saat itu, dimana belum ada media sosial online. Karena saya ingin berkenalan dengan berbagai komunitas, nah kumaha carana meh asup, ya jalan satu-satunya dengan berkenalan, sasadu lah. Saya ikut forum-forum, berbagai keegiatan pergerakan, dari situ saya mengenal zine. Seiringan dengan kesukaan saya pada zine, mengkoleksi beberapa karya teman-teman, saya juga mulai membuat zine garapan saya sendiri. Tidak terlepas dari bertambah banyaknya relasi dengan kawan-kawan baru, saling tukar zine, jadi subsidi silang juga buat keberlangsungan media (khususnya di Bandung).

 

Apa yang jadi dorongan terus menariknya berkutat di ranah media zine?

Sangat banyak hal menarik yang bisa saya dapatkan di bidang per-zine-an, selain banyak bahasan yang dibicarakan, pegiatnya pun beragam, bukan hanya dari kalangan tertentu saja. Mungkin dulu sejak awal-awal saya mengenal zine, sangat terkesan ekskusif, dari pembahasannya yang terpusat, serta pegiatnya masih sedikit (itu-itu aja). Tapi sekarang teman-teman yang menggeluti dunia zine semakin banyak, dari berbagai kalangan juga. Dan yang paling menariknya yaitu keterlibatan banyak pihak dan hal pada pembuatannya yang membuat zine itu mempunyai nilai lebih.

Terlebih ketika melihat sekarang kebanyakan orang semakin malas untuk menggali informasi dan mengkaji sesuatu lebih dalam serta terstruktur. Nah, dengan media seperti ini, dengan suguhan varian yang punya tawaran lebih luas, membuat kanal-kanal yang tadinya tertutup menjadi terobosan untuk membuka banyak lapisan. Dan yang kerennya, itu juga terdukung dengan forum-forum kecil seperti yang sering teman-teman adakan

Tentang zine Sleborz, bentukannya seperti apa sih? Dan konsep yang ingin disampaikannya seperti apa?

Itu mah sisi intuitif saya aja, saya ingin berbagi ide dan gagasan kepada teman-teman melalui zine, karena selain tertarik memproduksi, juga zine masih jadi media yang sangat relevan untuk disebarkan, baik dari bentuk maupun kontennya. Isi dari si Sleborz kebanyakan karya-karya saya, mau itu ilustrasi, puisi, ada juga beberapa karya teman-teman yang saya respon untuk isi di zine Sleborz.

Didukung juga dengan situasi yang buat saya gelisah banget, ya pokoknya harus ada yang disampaikan.

 

Memang masih relevan untuk bertahan di rilisan fisik (cetak)? Terlepas sekarang sudah zaman online.

Pisan atuh! hahaha.. Jadi gini, persoalan penting atau tidaknya para pegiat merilis zine dalam bentuk fisik, ya kembali lagi ke keperluan mereka. Kalau saya masih sangat penting, karena effort yang terbangun dari memiliki rilisan fisik teh bakal jadi arsip yang berharga buat nanti. Bahkan sampai sekarang saya masih ngumpulin, dek nu alus, dek nu butut.. hahaha.

 

Bicara zine berarti kan bicara tentang media independen juga, Kang. Harus seperti apa media independen yang ideal?

Sebetulnya pelabelan independen itu masih relatif juga, gimana kita menyikapinya aja. Kalau media independen itu harus seperti apa, yang pasti harus selalu ada yang “dibela”, dalam bentuk apapun. Kegelisahan kita akan sesuatu, atau ketertarikan pada hal yang kita ingin bahas, ya kita tuangkan pada media itu sendiri. Bersyukurnya sekarang kita ada pada zaman yang bebas berpendapat (?), sewaktu era GusDur, kebebasan berekspresi itulah yang membuat kawan-kawan banyak melahirkan ide dan gagasan yang baru, yang terus bermunculan. Baheula mah atuh, mau kumpul juga takut, tapi malah itu yang membuat waktu dulu komunitas-komunitas jadi kuat, perlawanan kita melawan isu yang sama. Kalau sekarang mah, generasi ini seperti ngelawan jurig, kita dibuat bias untuk melawan siapa, padahal permasalahan dari dulu sampai sekarang itu masih sama.

 

Terlepas dari “tidak terlihatnya” kita di generasi ini melawan siapa, masih banyak ditemukan gak semangat yang dulu Kang Ameng rasain sampe sekarang?

Dalam beberapa kasus ya masih ada, cuman enggak sebanyak waktu dulu. Yang saya sayangkan, sekarang itu teman-teman (khususnya mahasiswa) terkesan apatis dengan isu yang ada, bukan cuma isu politik aja, isu yang lain juga sama, mungkin pengaruh media sosial juga kali ya. Tapi media seperti itu juga tidak bisa disalahkan, karena hak mereka untuk mengelaborasikan kebebasan berekspresi itu sendiri, jadi semua punya hak untuk keperluannya masing-masing. Mau ngebahas apapun, ya suka-suka mereka aja, cuman nya lebar euy. Dan mungkin karena mereka juga tidak mengalami zaman dulu yang seperti apa. Penyaluran buah pikiran kritisnya sudah berbeda.

Ya balik lagi ke permasalahan awal, secara tidak sadar kita sudah termakan dengan keadaan yang easy going. Padahal kita teh sangat bisa untuk terlepas dari perkara itu, ya dengan sudah dimudahkan segala akses.

Tapi yang saya syukuri juga, zine sekarang lebih beragam (dalam isi konten). Tidak melulu tulisan literasi, tapi banyak dimasukan juga ilustrasi, footage foto, komik, dan banyak lagi. Itu jadi penting untuk perkembangan zine, menambah warna juga. Dan membuat zine bisa dikonsumsi banyak pihak.

 

Rencana kedepan, masih berminat untuk terjun di media literasi?

Oh iya sangat, mengingat dalam berkarya pun banyak referensi-referensi saya dari sajak atau puisi, bahkan lirik lagu. Dan itu juga seperti memudahkan saya untuk menuangkan aspirasi. Juga sebagai jembatan saya untuk membagikan kepada teman-teman, nya sanajan blekok ge yang penting terus berkarya aja. Karena pentingnya sebuah media agar menjaga medan dan “media” sosial saya. Porsi yang terpenting yaitu menyimpan memori secara fisik agar bisa diingat dan dikaji terus.

Latest Articles

Musisi yang Terasing dari Dirinya Sendiri

Gregorius Manurung | 16 Januari 2019

Fistful of Steel

Gregorius Manurung | 16 Januari 2019