Highvolta

3 LAGU KEBOSANAN ALA MARK KOZELEK


By: Andika Tzk a.k.a Urab


        Alunan khas vokal Mark Kozelek dengan suara ringkih dan petikannya melangkapi suasana hitam ke-abuan sedikit pilu, ditambah suara hujan rintik-rintik yang terdengar mulai berjatuhan di atap rumah. Suasana semakin membiarkanku untuk tenggelam bersama alunan suara. Mungkin inilah yang dinamakan bosan dalam kemalasan yang tak beralasan, dan itu memang terjadi. Suasana hati yang menuju gelap mendayu tanpa hasrat sedikitpun, tanpa apapun, dan menjadi lebih lengkap oleh selingan hadirnya keterasingan yang menggulung emosi itu.

        Dan apa daya saat kemalasan yang total hadir. Kebosanan tanpa hasrat sedikitpun, bahkan untuk hidup terkadang ragu. Bagaimana mood yang brengsek itu selalu jadi hambatan, menghancurkan seluruh hasrat-hasrat yang lebih rasional. Itulah salah satu kelemahan kacaunya emosional, selalu hadir mengalahkan nalar logika sekalipun. Keadaan yang terkadang banal itu seperti membawa pada kerumitan yang menjungkirbalikan pada posisi-posisi tertentu. Dari semenjak siang hari menuju sore, menuju malam posisi tubuh  masih terkapar di kasur. Dalam ruang fantasi utopis yang entah berantah, memikirkan hal-hal yang sebenarnya sudah cukup membosankan. Tak ada hal-hal cukup menarik yang dapat kulakukan saat ini, selain menjilati kebosanan dengan wajah yang terlihat dalam bayang imajinasinya sendiri, seolah tak peduli apapun. Sangat jauh kalau dibilang kreatip, tak ada makna atau apalah itu yang dapat jadi pembelajaran apalagi sebuah hikmah. Hiiks. Maka dari itu untuk merayakan kebosanan ini saya lebih baik memutar setiap lagu-lagu Mark Kozelek dari setiap album ke album dan band-nya.

        Lagu kebosanan pertama yang kuputar ialah “Sun Kil Moon- I Watched the Film The Song Remain the Same.” Cukup dengan irama petikan dan vocal saja lagu ini terasa seperti menuju oase dasar lautan. Tetap dengan chord gitar yang khas ala Mark Kozelek. Melankolis yang disampaikan bukan seperti melankolis cengeng ala  folk ame-ame kekinian, biasa dibawakannya dengan ekspresi buka-tutup kelopak mata sambil menghayati nyanyian sakitnya. Tetapi berbeda halnya melankolis kebosanan yang saya maksudkan tersebut, seperti wajah tenang,  mata tajam, tanpa banyak tingkah dan suara yang berat meringkih, sampai irama nada itu menghanyutkan kedalam darah. Dengan tempo lambat mendawai yang menyuruh kita cukup untuk diam menikmatinya, diam yang tak ingin terganggu oleh alunan so asik dan genit. Kesederhanaan yang ditampilkan musik  Mark Kozelek, seperti kerumitan tersendiri bagi saya untuk bisa merasakan kebosanannya. Hanya cukup diam sambil melihat pemandangan sekitar sehari-hari saja sudah cukup rumit rasanya. Sambil muntah tanpa ekspresi meludahi keadaan.

        Berbeda dengan lagu kebosanan kedua. “Red House Painters- Silly love song,” seperti lagu romantis yang cukup konyol bagi Mark Kozelek. Red House Painters sendiri sekaligus kendaraan di awal-awal debutnya sekitar 1990-an dalam kiprah bermusiknya. Kali ini saya mendengarkan lagunya seperti sedang tenggelam dalam kedalaman yang samar menuju gelap tak beraturan, dengan tempo cukup lambat ditambah petikan melodi yang cukup kasar beraturan menambah irama kebosanan lagu semakin syahdu. Melankolis dengan kadar emosional yang cukup langka bagi saya untuk mendengarkannya. Dengan lirik yang tak bertele-tele bermainkan metafor, lebih secara langsung menjelaskan suatu perasaannya, namun di akhir  lirik sepertinya masih ada kebingungan untuk mengungkapkannya. Tetapi ini cukup mewakili bagi kebosanan itu sendiri. Untuk kebanyakan yang seperti lainnya sibuk mengisi dunia dengan mendengarkan lagu-lagu cinta murahan yang konyol.

        Setelah seharian memilih lagu-lagu Mark Kozelek lain untuk  dimasukan pada lagu kebosanan peringkat ke-3, akhirnya saya dengan pertimbangan tertentu memilih “Sun Kil Moon- With a Sort of Grace I Walked to the Bathroom to Cry”, lagu ini berhasil membuat saya menelanjangi kebosanan tersebut dengan cukup bergairah. Suara gitar yang tebal dengan irama yang cukup cepat berbeda dari seperti lagu-lagu Mark Kozelek lainnya. Teriakan muntah terdengar di lagu ini, dengan alunan yang tiba-tiba berhenti pelan dipertengahan dengan tambahan bisikan-biskan khas ala vokalnya. Entah tanpa banyak beralasan, seperti ingin manarik ulurkan setiap muntah yang sedikit demi sedikit mulai keluar. Kebosanan yang tak biasa mempunyai alasan untuk diartikulasikan sebagai definisi yang awam. Apakah karena ia hadir seperti dari rasa kenyang dan rasa puas itu juga? Mungkin saja, atau itu hanya perasaan saja. Seperti hidung yang tak pernah berhenti bernafas setiap detiknya, walaupun kita sudah tau itu tak akan akan pernah berhenti (selain sakit/mati mengidap penyakit). Justru itu yang seharusnya, karena itu memang seharusnya.

        Inilah representasi kebosanan itu yang tak berwujud, tetapi hadir dalam bentuk lain melalui perasaan yang diiringi suara-suara. Menjadi nyawa yang mengisi di kedalaman sampai menuju major depression sekalipun. Setiap suara dalam alunan nada apapun dan tak beraturan sekalipun bisa mewakili emosi yang menguap itu. Karena bunyi-bunyi yang semakin berbisik untuk membuat ulah dan mengajaknya kompromi kembali. Diri yang memisahkan perang tanpa henti di pikiran dan perasaan sudah tak mempedulikan lagi. Setelah merasa lelah itu kita hanya bisa membiarkan dan mencoba mengerti kembali, dan mencoba beranjak keluar rumah melihat keadaan nyata melihat kebosanan.

Latest Articles

INTERVIEW: MUFTI PRIYANKA POSISI ZINE SEBAGAI JEMBATAN MEDIA SOSIAL

Muhammad Hilmy Fadiansyah | 16 Januari 2019

Musisi yang Terasing dari Dirinya Sendiri

Gregorius Manurung | 16 Januari 2019