Highvolta

Musisi yang terasing dari dirinya sendiri, mungkinkah? Bukankah bermusik adalah sebuah kegiatan berkesenian yang seharusnya sesuai dengan passion dari si musisi? Kenyataannya, hal tersebut bisa sajaterjadi.

 

Musisi yang terasing dalam dirinya sendiri akan sering kita temui di dunia yang sudah sangat pragmatis dan dikuasai kapitalis ini. Pertama, karena menjadi seorang musisi sekarang sudah dijadikan sebagai “pekerjaan”. Mungkin akan ada yang berpikir “Memang menjadi musisi untuk apa lagi? Musisi juga perlu hidup, perlu makan, perlu uang,” ya itu benar, karena sekarang musisi sudah hidup di dalam duia yang sungguh pragmatis. Musik yang seharusnya menjadi proses berkesenian yang menjadi manifestasi dari diri si musisi, malah menjadi kegiatan yang membuat musisi jauh dari dirinya sendiri.

 

Musik yang masuk industri sebenarnya tidak salah, itu malah bisa membantu si musisi untuk hidup, yang salah adalah ketika musik dikomersilkan oleh para pelaku industri secara besar-besaran dan hanya berorientasi pada uang.Ketika uang sudah menjadi orientasi utama dari suatu proses berkesenian, luntur sudah proses berkesenian itu dari fungsi utamanya: menjadi manifestasi dari diri si seniman.

 

Musisi menjadi terasing dari dirinya sendiri karena ia tidak dapat memanifestasikan dirinya dalam karya yang ia ciptakan. Tak ada kepuasan sama sekali dari musik yang ia ciptakan, tidak ada semangat ataupun ide pribadi yang dituangkan dalam musik yang diciptakan. Apalagi selain terasing itu namanya?

 

Selain musisi, bahkan pelaku industri musik sendiri bisa menjadi terasing dari dirinya. Karena ia terus mengorientasikan uang dalam musik yang akan ia produksi. Ia akan melupakan musik yang ia sendiri sukai. Secara tidak langsung ia menjadi terasing juga dari dirinya sendiri. Hal ini dapat kita lihat pada tahun 2010, ketika unit rock asal Kota Bandung, Koil, digaet Nagaswara Record untuk merilis ulang album The Blacklight.

 

Nagaswara dikenal sebagai record label yang merilis musik-musik melayu dengan tema cinta. Siapa yang menyangka akhirnya Nagaswara merilis album musik keras seperti Koil? Bisa jadi mereka yang berada di balik tirai Nagaswara sebenarnya menyukai musik-musik seperti Koil, tetapi karena memiliki orientasi uang, maka mereka sempat terasing dari diri mereka, dan ketika mereka mendengarkan Koil, kembali hadir diri mereka yang sebenarnya.

 

Atau bisa jadi karena melihat peluang bisnis yang hebat dari album tersebut yang sebelumnya dirilis secara gratis dan mendapatkan antusias yang besar dari penggemar musik keras di Indonesia.

Beruntung sekarang ini Indonesia dihantam gelombang musik indie, sehingga musisi yang berada dalam gelombang tersebut bisa lebih bebas menciptakan musik dan dapat memanifestasikan dirinya dengan bebas dalam musik yang ia ciptakan.Dan semoga saja dengan semakin mainstream-nya musik indie, mereka yang berkecimpung di musik indie tersebut tidak membuat pakem-pakem dalam bermusik indie sehingga musisi yang nanti mencoba masuk dengan semangat indie malah terasing dari dirinya(lagi).

Latest Articles