Malam Pertunjukan Komunal

Untuk ukuran band yang punya basis penggemar yang cukup masif, nama Komunal termasuk dalam jajaran band yang sangat jarang manggung. Intensitas mereka untuk naik panggung terbilang sedikit, sangat sedikit malah. Terhitung dalam empat tahun terakhir sejak 2016, hanya ada sekitar lima belas panggung yang mereka isi. Jumlah yang sangat minim untuk ukuran band dengan basis penggemar se-masif dan se-militan yang mereka punya. Apalagi jika mengambil perbandingan dengan band satu angkatan mereka: Seringai, yang sanggup mengisi dua puluh lima panggung dalam waktu setahun saja, tepatnya di 2017–belum lagi di kurun 2016 dengan jumlah fantastis sebanyak empat puluh empat panggung.

Banyak faktor tentu saja, entah kesibukan masing-masing personil atau faktor keberuntungan boleh jadi. Namun yang paling tampak tentu saja pada 2017 di mana Komunal hanya sanggup naik panggung sekali, itupun di acara yang mereka organisir sendiri di mana sebagian mereka adalah panitianya: Limunas.

Tak banyak organizer acara yang melirik dan berani mengundang Komunal sebagai penampil, padahal jika dilihat dari rata-rata pertunjukan Komunal jumlah penonton yang hadir cukup bisa setidaknya menutupi biaya produksi pertunjukan. Tak sampai bikin cekak penyelenggara. Penggemar mereka rata-rata adalah tipikal fans musik tauladan yang suka rela membeli merchandise dan membayar tiket saat pertunjukan.

Sadar dengan kondisi ini mereka menempuh berbagai cara: dari mulai gencar memasang diskografi di berbagai platform digital semodel Spotify, Apple Music dan mulai sedikit-sedikit memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Meski mereka sendiri mengaku kurang akrab dengan formula seperti ini, sebagaimana dikutip dalam wawancara mereka di Tirto ID yang menyebutkan: “jika target bikin lagu untuk mendongkrak popularitas, kita gak biasa dengan formula seperti itu” Demi mendapatkan panggung, mereka nampaknya mesti kembali pada formula lama: buat acara sendiri. Di mana bintang tamu dan panitianya adalah mereka.

Namun perlu diakui, usaha mereka cukup membuahkan hasil. Terbukti pada kurun 2018 mereka berhasil naik panggung sebanyak empat kali. Salah satunya pada 20 Oktober 2018 lalu, mereka berhasil mengadakan konser tunggal yang bertempat di Spasial, Bandung.

Publikasi pun dimulai, info penjualan tiket dan venue mulai mereka sebar di akun sosial media mereka. Mereka juga mengundang illustrator kenamaan kota Kembang, Riandy Karuniawan untuk membuat desain poster acara yang kemudian mereka cetak untuk ditempel di sudut-sudut kota sebagai media promosi. Sebuah cara klasik yang sarat nostalgia. Mereka besar dengan fenomena flyer cetak ini.

200 tiket pre-sale ludes dalam kurun waktu kurang dari seminggu. Menyisakan sekitar 50 tiket tambahan yang akan mereka jual saat hari H.

Hari yang ditunggu pun tiba, satu jam sebelum pertunjukan, venue sudah penuh oleh kerumunan yang siap melepas kerinduan menyaksikan Komunal. Mengundang gerombolan huru-hara, Brigade Of Crow, sebagai salah satu new-comers gawat asal Kota Bandung yang kemunculannya patut diperhitungkan.

Mereka tampil sebagai pembuka, dengan durasi kurang lebih 30 menit.

Tiba giliran Komunal tampil. Sambil memanaskan alat, Reza, Sadath, dan Arief memainkan intro dengan mid-tempo. Lampu sorot mulai berkelip kelip, menghiasi dekorasi panggung bernuansa klasik yang tanpa menyertakan proyektor. Tanpa gimmick atau rekayasa-rekayasa digital. Hanya backdrop kain bermotif Burung Garuda lambang kebesaran Komunal. Desain sampul album “Gemuruh Musik Pertiwi”. Layaknya musik yang mereka usung: Heavy Metal Purba. Dengan hanya satu gitar, drum, bas, dan vokal. Kebut, gahar, tanpa tedeng aling-aling.

Di belakang panggung terlihat Doddy Hamson, sang vokalis yang bersiap menunggu aba-aba masuk pasca intro rampung dimainkan.

Dengan balutan kaus Mani Pacquiao yang ia kenakan, ia pun melenggang masuk ke depan panggung, lantas menyapa penonton yang sedari tadi tak sabar menunggu pertunjukan dimulai.

Selamat malam buat kalian yang datang malam ini” pungkasnya agak canggung, yang langsung dibalas sorak dan kepalan tangan penonton.

Sementara Sadath masih tetap membiarkan bebunyian feedback keluar dari Les Paul miliknya. Menunggu momentum.

Di kiri panggung nampak Arief yang bersiap menunggu aba-aba dari Reza.  Dan baaam: pertunjukan dibuka dengan nomor Bakar Kibar, lagu pembuka di album terakhir mereka: “Gemuruh Musik Pertiwi”, nomor yang potensial untuk memanaskan tungku moshpit.

Belum genap seperempat intro dimainkan, satu-dua penonton sudah tak kuat untuk stage-dive.

Di tanah nihil berbagi, kami tetap berbaris//Di tanah nihil bermimpi, kami tetap berbaris

muncul dari suara parau Hamson yang seketika membakar semangat penonton. Pilihan set-list yang cukup tepat sebagai pembuka pertunjukan.

 

**********

Oke, melihat antusias dan energi penonton yang sudah cukup panas, pertunjukan digeber dengan nomor ganas: ‘Manusia Baja’, track andalan yang terselip di Album sophomore mereka: Hitam Semesta. Sebuah manifesto sekaligus pembuktian bahwa mereka lah garda depan Rock n Roll. “Yeah, we’re fukkin big mouth” sebagaimana kalimat yang mereka tempel di sampul album perdana: “Panorama”

Kamilah, genderang penyelamatan//Rock n Roll telah mati

Diaminkan oleh hampir oleh seisi ruangan.

Provokasi mulai muncul dari mulut sebagian penonton yang meneriaki “buka! buka!” pada Doddy Hamson agar segera menanggalkan kaus yang ia kenakan. Hal yang langsung ia sambut dengan kalimat: “tenang, belum panas, man! Ntar kalo sudah panas kita buka!”

Memberi sinyal bahwa pertunjukan belum separuh jalan. Set-list masih panjang. Kita tahu, bertelanjang dada di atas panggung jadi hal yang sangat akrab di konser-konser intim Komunal.

Tiba saatnya ber-head-bang ria, ‘Ilmu Tentang Racun’ pun dimainkan, mengiringi ‘racun’ kedua yang hamson bakar di pertunjukan malam itu. Riff berlumpur dengan sound gitar down-tuned yang Sadath pungut dari rawa senyap hutan Amazon.

bahkan kami tak pernah percaya// permaianan penuh tanda tanya.”

Hamson bertugas sebagai dirijen, mengiringi penonton yang berkaraoke masal.

Sadar dengan suasana ruangan yang sudah mulai panas, mereka menarik napas sejenak lewat Tarankanua, tembang mid-tempo di album sophomore mereka: Hitam Semesta.

Malam ini kamilah milikmu

Sekaligus mempertegas tugas mereka sebagai “servant” bagi tiap-tiap orang yang datang di pertunjukan malam itu.

Giliran “Budaya Purba”. Penonton makin kesetanan. Adrenalin penonton sulit terbendung. Intro gitar yang bahkan sudah cukup “heavy” tanpa perlu diiringi drum dan bass sekalipun, menggiring seisi ruangan untuk berjingkrak, berteriak, melompat-lompat tak karuan.

Hitam Semesta dan Higher Than Mountain II dimainkan sebagai pendingin, Hamson menepati janjinya di awal, ia menanggalkan kaus Mani Pacquiao yang ia kenakan. Disambut riak sorai penonton.

 

Suasana moshpit hampir sudah tidak karuan saat Blues Menuju Thrash dikumandangkan, tiap orang memainkan peran mereka masing-masing. Thrashin’, slamming, atau seperti yang saya lakukan di pinggir kiri yang sekadar mengangguk malu-malu sambil bernyanyi sesekali.

Masih belum muncul tanda-tanda “Gemuruh Musik Pertiwi” bakal dimainkan. Itu artinya, pertunjukan masih setengah jalan.

Hampir semua lagu andalan di tiap-tiap album mereka mainkan. Rock Petir, Pemuda Belati, Demi Kau dan Semua Mati yang di-medley bersama Dalam Kerinduan. Diorama Kontaminasi Puritan, hingga Adong Nang Diada mereka masukan ke dalam set-list malam itu.

Ada total sekitar dua puluhan lagu, dengan tambahan Ngarbone—tembang obituari bagi sahabat mereka: Arbon—yang dimainkan ulang sebanyak tiga kali oleh tiga vokalis tamu.

Pasca Ngarbone, tiba saatnya tembang pamungkas: Gemuruh Musik Pertiwi. Pukulan drum Reza masuk sebagai intro. Gitar dan bass masuk. Dua petikan gitar bereselang, terlihat satu orang penonton yang nekat mencoba memanjat rigging di sisi kanan panggung, meniru Eddie Vedder saat di Pink Pop 1992. Beruntung Hamson cepat menyadari dan menghentikan sejenak pertunjukan sambil menyuruh turun idiot itu turun dan memanggil security agar orang itu diamankan. Aksi yang tak layak ditiru oleh siapapun. Benar-benar membahayakan.

Lagu dimulai dari awal setelah tadi sempat terhenti. Dan akhirnya potongan lirik: “di sini uang dan politik tak ada artinyaaa” keluar juga dari mulut semua penonton.

Di lagu ini Hamson tak banyak bernyanyi dan lebih sering melempar mikrofon ke penonton yang sudah demikian hapal setiap liriknya. Momen yang paling pecah di pertunjukan malam itu.

Pertunjukan hampir menuju akhir, Hamson memberi sinyal ke penonton bahwa set-list mereka hampir habis dan hanya menyisakan satu lagu andalan sebagai encore, ‘Pasukan Perang Dari Rawa’ sesaat setelah Sisilia Senandung Sang Bapa dimainkan sebelumnya.

Pemilihan encore yang tepat.

Ini momen terakhir, mereka menyulap moshpit layaknya medan perang. Semua penonton meluapkan semua energi yang tersisa di arena itu.

Setelah selesai pertunjukan, nampak wajah-wajah sumringah terpancar dari tiap-tiap orang yang datang.

Tepat di malam itu, Rock ‘n Roll hidup selamanya. Heavy Metal tetap berkibar.

All hail, Komunal! Hell yeeeaakkh...