Rambu Darurat Dari Rapper Nakal Hip-Hop

Saya pikir tidak ada frasa yang lebih tepat untuk mendefinisikan Rand Slam selain “bocah tengil”. Saya serius. Pertama, ia bagai anak SD yang tidak tahu tata krama, nyelonong masuk ke rumah skena hiphop, tanpa assalamualaikum atau ketuk pintu. Kedua, dia incaran polisi.

Pertama EP Johan (2017) dengan amunisi tujuh lagu, kedua album Rimajinasi (2017) dengan amunisi 12 lagu, sekarang ia kembali melongos lewat album penuh 9051 (2020). Belum lagi sampul album 9051 yang bisa membuat tiap polisi menyimpan dendam pada magister linguistik cum penyiar radio satu ini.

Lewat 12 nomor boombap hiphop dalam 9051, Rand Slam meneruskan berondongan rimanya. Nomor "Mewaris Bara" dirilis sebagai kisi-kisi album dan langsung mencuri perhatian linimasa Twitter dan gelondongan story Instagram. Suara cemprengnya yang bersautan nikmat dengan musik latar racikan Herry Sutresna.

Album ini diawali nomor "Makadam" yang mengambil sample dari lagu "Zombie Prescription" milik unit metal Snapcase. Ketengilan Rand Slam makin terasa ketika mendengar lirik pembuka "Satu, dua, tiga, pilihan/ Hapus semua citra dirinya/ Harus kubuang sisa cerita/ Pilihanku, ini pilihanku" dan dilanjutkan oleh "Beritakan ke seluruh penjuru/ Kami takkan pernah tertunuk berlutut/ Di hadapan mereka yang terbuai". Kita bisa melihat bahwa di lagu Snapcase terdapat baris lirik "We are the signs of changing times." Lirik Rand Slam dan penggalan lirik Snapcase saling berdialog dalam track yang menjadi pembuka ini. Terasa besar gejolak kawula muda ala anak nakal yang menjadi semangat album ini. Ini baru nomor pembuka.

Bragging terus berlanjut sampai ke nomor "Selisik Sekat" yang berarti singkap sekat atau hancurkan batas-batas. Masih berarpi-api dengan sample The Delfonics berjudul "Ready Or Not, Here I Come" dan barel lirik dalam 20 bar yang makin menggila. Ready or not, here I come, you cant hide milik The Delfonics bersautan nyaring dengan dua bar pembuka milik Rand Slam: Untuk tiap tetes keringat yang mengucur/ Dan suara tangis yang terkubur” Rand Slam adalah semangat berapi-api sebuah generasi hiphop baru yang tak terdengar sebelumnya. Ia, bersama sejawatnya, Joe Million, membawa multi-syllabic rhymes dalam keterampilan meracik bar-bar lagunya.

Multy-syllabic rhymes, permainan fonetik dan semantik kata bertebaran dalam album ini. Coba lihat saja baris “Kencangkan kataku, terus naikkan volume/ Ragu yang mengganggu, gerus jadikan monumen/ ... Dia yang menganggap hak dia tuk berjaya/ Dia yang terkapar, hadiah tak percaya” dalam nomor “Makadam”, “Lusinan muka, harus sadar kenyataan/ Kalau lu singgah cuma, jadi bahan tertawaan, haha” dalam lagu “Nirojinasi”, “Kuungkap tabir, kutukan takdir” dalam nomor “Selisik Sekat”, “Mereka bina saya agar bisa binasakan/ Kalian, kalian, belajar biasakan” dalam “Mewaris Bara”, dan masih banyak lagi yang akan membuat kita megap-megap. Kemampuan meramu rima-rima seperti ini dalam bahasa Indonesia sangatlah luar biasa dan segar bagi hip-hop lokal. Mungkin latar belakang pendidikan linguistik membuatnya peka akan setiap kata dan pasangan minimalnya yang memiliki fonetik dan semantik yang mampu dijadikam rima dalam bar-bar berbahaya.

Salah satu yang menarik dari album ini adalah kemunculan 3 track yang cuku menyentak: “Nirojinasi”, “Jejeboy’s Interlude”, dan “Dia”. Dalam track Nirojinasi, sang Iblis Leksikon juga sejarawan bokep-cum-seksolog Krowbar muncul sebagai tandem rima yang menggodam telinga kita dengan barisan rima yang takkan lolos sensor KPI. Rand Slam menunjukkan juga kemampuannya untuk menulis rima-rima saru. Salah satu yang terus mengiang adalah dua bar pada verse awal: “Sajak terpola rapat, vagina ranum perawan/ Kata per kosakata, jadikan kamus berdarah.” Pemenggalan suku kata yang dilakukan Rand Slam ketika emceeing pada bar kedua terdengar menjadi “Kata perkosa kata jadikan kamus berdarah.” Pemenggalan Rand Slam membuat terbentuknya makna lain – yang sangat berbahaya – pada  bar yang sama. Hal ini menunjukkan lagi kepekaan Rand Slam atas bahasa yang mampu membuat rimanya bukan “pedang yang tak berguna dalam pertempuran”.

“Jejeboy’s Interlude” adalah kelakar spoken word Jason Ranti yang meskipun “Apaan sih?!” terdengar menarik. Sementara nomor “Dia” adalah nomor paling berbeda dari kebanyakan lagu yang berisi braggadocio ataupun ekspresi politik Rand Slam. Nomor ini terasa sangat personal dan sentimental ketika dibuka dengan “Selamatkan aku, selamatkan aku/ Dari kepalaku, dari kepalaku,” lalu berlanjut pada bar-bar sentimentil lainnya: “Namun harus kuakui hanya dia yang mengerti/ Tiap keluh kesah, hati yang penuh sesak/ ... Jawaban yang kudapat, ocehan yang perih/ “Kemana gerak langkahmu, ku kan tetap bersamamu/ Sampai akhir hayat, sampai akhir masa”.” Perihal yang sangat personal dan terdengar depresif ini menjadi semacam anomali ketika dalam album ini lusinan braggadocio membredel brutal telinga kita, lalu di tengah album terdapat nomor sesentimentil ini. Entah siapa “dia” yang dimaksud Rand Slam –bisa pasangan, orangtua, kawan, atau juga kampung halaman, tetapi sangat terasa sekali kedekatan dan, mungkin, ketergantungan atas “dia” dalam diri Rand Slam.

Rand Slam tidak hanya menjadi ancaman secara estetika – ancaman bagi para rapper gaek dan rapper muda bermodal beat dan rima ketengan-mudah-ditebak, ia juga menjadi petaka bagi penghamba NKRI harga mati dan pejuang kemanusiaan kurang party yang hanya mau bergerak bila isu konsertrasi mereka saja yang digebuk. Melalui nomor “9051”, “Praduka”, dan “Arso”, Rand Slam membawa narasi kekejaman Inonesia di tanah Papua secara fisikal maupun nonfisikal juga kerinduan atas kampung halamannya.

Pasca tindakan rasis aparat di Surabaya yang meneriaki “Monyet!” pada mahasiswa Papua di asrama mereka, pengepungan serta penggerebekan Asrama Papua di Semarang dan Malang, tersulutlah amarah orang Papua pada tindak-tanduk orang-orang Indonesia ini. Ada yang berkelakar bahwa hal ini adalah salah komunikasi antara aparat dan mahasiswa asrama perihal umpatan “monyet” sebab umpatan itu sudah lumrah di kalangan aparat. Hal ini menyiratkan dua hal: pertama, aparat memang sering melakukan dehumanisasi dengan sering menyamakan manusia dengan binatang dan kedua, aparat sulit berpikir. Jika mereka paham sejarah konflik Papua – dan saya yakin mereka paham, toh mereka akotrnya – mereka pasti tidak akan sembrono untuk asal bunyi.

Dari nomor “Praduka” kita bisa melihat bagaimana pola pikir orang Indonesia kebanyakan kepada orang Papua, juga bagian Timur Indonesia. ““Kok kamu tidak hitam, rambutmu kok lurus?/ Mukamu tidak terlihat kayak orang dusun”.” Dua bar ini menjadi pembuka stigmatisasi orang Indonesia pada orang Papua. Lalu bar dilanjutkan dengan “Doyan mabuk sampai larut akalnya menghilang”, “Di sana apa masih/ Orang pake koteka? Kalian kok tega/ Jadi kanibal kayak berita di TV?”, dan “Kalian dibuang, ingat kalian minoritas/ Kami tuan rumah, harap itu ingat.” Lagu “Praduka” mengambil konsep dialog antar Rand Slam dengan seorang anonim entah siapa yang menjadi representasi masyarakat Indonesia kebanyakan yang menaruh stigma pada orang Papua. Rand Slam seperti menertawakan dan menginterupsi konsep seperti tabayyun, tetapi berangkat dengan stigma dan tendensi rasis, bukan sebagai upaya mencari tahu karena mereka sadar mereka tidak tahu apa-apa.

Masyarakat Indonesia kebanyakan memang tidak tahu banyak soal Papua dan konflik yang terjadi di dalamnya. Jika itu soal pembagian saham antara PT. Freeport dengan pemerintah mungkin akan menjadi headline berita yang diserbu klik, tetapi jika soal penembakan warga, penggunaan bom fosfor, atau perampasan lahan adat, konsep “Jangan asal percaya berita” akan menjadi mantra penandas kewarasan paling ampuh di tengah masyarakat kita. Sebab, meminjam tiga bar “Praduka”, “Papua minoritas di tanah endonesa/ Kulit dan rambutnya, kalah elok memang/ Dengan emas perak dari tanah mereka.”

Album 12-track ini memuat banyak hal. Mulai dari rima-rima berbisa dengan segudang braggadocio berbahaya dileburkan dengan narasi politis Rand Slam pada bar=-barnya. Penggusuran, brutalnya polisi, hilangnya kewarasan kita, dan rasisme juga barbarisme orang Indonesia di Papua terjahit dalam lagu-lagu di album “9051” ini. Dengan berguru pada MV – yang juga tercatat jelas pada lirik di nomor “Mewaris Bara” – membuat Rand Slam menjadi anak muda marah yang tahu senior gaek mana yang harus diikuti dan dirampok ilmunya.