Henry Rollins di Sepertiga Lapangan Hijau

Damaged atau My War? Silakan berdebat hingga isi otakmu terurai. Namun Live ’84 album yang mungkin bakal saya pilih dari kuartet  radikal-jenius yang kisah hidupnya sudah banyak diceritakan, hingga kadang, membicarakannya sudah bukan lagi hal yang perlu.

Mengubah jalan hidup, menguntil perilaku. Adalah apa yang penggemar akan lakukan pada sosok idola. Hingga pada taraf tertentu kredo “Kill your idols!” sangat wajar diucapkan.

Membicarakan Black Flag—yang akan mengisi gelaran festival musik metal terbesar di Asia Tenggara—tentu tak lepas dari sosok Greg Ginn, sang maha pencipta. Nampaknya, dapur memang harus tetap terlihat berasap dengan pemain hoki berpenampakan Notorious MMA di sekitar pantry itu.

Greg selalu melihat uang. Kenapa bukan Flag Band saja sih yang datang? Setidaknya Keith Morris dengan Nervous Breakdown nya cukup lah” gerutu yang muncul dari dalam kepala pragmatis seseorang yang berselera d-beat. 

Di antara mereka, saya lebih memilih seseorang, yang jika memiliki akun instagram mungkin cocok untuk sekedar berkelakar menggunakan label ‘motivational speaker’ namun tidak sampai menanggalkan ‘public figure’ karena setelahnya membombing direct massage adalah tindakan yang tidak berlebihan – khawatir ia akan mengidap penyakit ‘eksibisionis’ khas selebgram, untuk kemudian diserbu tawaran iklan pelangsing dan sejumlah perawatan tubuh instan lainnya.

Tanpa kompromi, tajam, bernafsu binatang, kesan yang banyak orang lontarkan untuk maniak satu ini. Rollins tidak pernah berusaha mengesankan siapapun, bahkan jika ia selesai merampungkan sebuah projek garapannya, “Okey, cool,” cukup itu  untuk kemudian menarik nafas, membuka halaman baru, merakit moodboard untuk projek berikutnya. Baginya waktu tidak bisa diremehkan, kata cukup dan lelah seolah tak pernah ada dalam kamusnya. Dari satu kapal menuju kapal lain. Hidup seolah begitu singkat hingga usia 50 tidak terasa melambai dengan cepat.

Rollins selalu bergulat dengan keresahannya. Ketakutan akan kebodohan yang menghantui membuatnya resah dan marah di waktu bersamaan atas apa yang ia anggap keliru.

Mendengarnya mengerang liar bersama Suzi Gardner memberikan semacam efek sensasi bersenggama dalam judul Slip It In.

Slip It In selalu berhasil melahirkan senyum kecil di ujung bibir teman yang ini, teman yang itu. Bayi, bocah polos murni. Hingga di salah satu pojok ruangan tempat saya berdiam, terdapat benda tabung menyombongkan layarnya – berisi berita sang gelandang pengangkut air surga memutuskan untuk hengkang dari klub yang sudah ia bela hampir sebelas tahun lamanya: Persib.

Momen itu muncul secara acak di hidup saya. Hariono 24/Mas Har memutuskan untuk tidak lagi mengemban peran dalam skenario sang juru taktik. Bahkan tidak sampai peluit akhir berbunyi. Dingin dan harus bekerja dan harus bekerja dalam ketiadaan nampaknya keputusan yang terlalu nyaman bagi seorang berdarah didih yang siap menjalankan instruksi apapun di tengah lapangan.

Hadirnya Hariono dan Rollins yang masih memaki pengeras suara kasar yang sedang mengurungnya, mempertanyakan kembali asal muasal mengapa bisa mereka bertemu di ruang imajiner saya. Hukum alam? Jiwa bawah tanah yang merongrong? Atau tuntutan redaksi? Tentu tidak yang satu itu. Sial, saya tidak bisa menghangatkan diri sendiri.

Parade punk a’la Hariono

Menuju tahun 2008. Mengawali laga debutnya menggantikan el capitano Suwita Patha, tidak ada yang memprediksi ia akan menjadi sosok yang bisa diandalkan oleh Bobotoh ketika situasi di lapangan membutuhkan sedikit sentuhan picik—bahkan banyak?

Menanggalkan rasa hormat selama sembilan puluh menit, bukan berarti tidak menghargai. Sebut saja pemain sekaliber Bambang Pamungkas hingga penyerang tengil seperti Titus Bonai, dua pemain yang sudah kenal dan akrab dengan hantaman telak si gondrong tatkala mereka berniat memasuki jantung pertahanan Persib.

Gelandang bertahan adalah posisinya. Di medan perang ia bak penyokong bom serta peluru yang selalu siap menyuplai amunisi ke barisan depan. Tak perlu se-flamboyan seperti Xabi Alonso, sosoknya cukup untuk menciptakan kerusuhan di area pertahanan lawan, selayaknya bagaimana bom bekerja.

Gegabah, eweuh kacape, sembrono, nekat, menguasai ketakutan lawan, sosok yang tidak ingin kalian hadapi di sisi lain lapangan. Selalu berambisi memberikan sepenuhnya untuk apa yang ia bela, membuat Hariono tidak salah digadang-gadang menjadi legenda baru dalam buku sejarah Persib Bandung atas apa yang sudah ia berikan.

Integritas dan mental keras itulah garis besar yang membuat saya berandai-andai melebur sosoknya dengan Rollins. Etos punk diatas panggung maupun dalam berkehidupan, nampak tidak mustahil tersaji di rumput hijau setelah kemunculannya mengenakan jersey biru asal kota Bandung.

Mentonton kembali cuplikan ia merumput, sembari menggunakan earphone yang di dalam diperdengarkan album Damaged -- siap menutup telingamu rapat-rapat dan menciptakan pengalaman chaotic tersendiri. Perpaduan riff-riff hardcore punk bertemu sosok brandalan sepak bola sedang menebas kaki-kaki rapuh. Di mana lagi bisa melihat lenggak-lenggok buas atau menghempaskan raga kesana-kemari selain di moshpit.

Tentu saja dengan konteks yang berbeda. Menjalankan dengan total apa yang ia sanggupi, dan kesadaran penuh menjadi seorang pesepakbola yang memiliki kemampuan ala kadarnya, tidak membuat ia patah arah dan tetap berproses membentuk karakter tersendiri dalam permainannya.

Alhasil penampilan yang ia berikan selalu menjadi prmandangan antik sekaligus istimewa yang tidak bisa disuguhkan oleh pemain lain. Memburu lawan dengan gaya rambut terombang-ambing liar layaknya singa kelaparan. Jika sukses merebut bola ada dua kemungkinan: tabrak lari atau pukul rata. Larinya tergontai-gontai mencari tujuan, membuat seisi stadion bertepuk riuh ketika momen langka melewati lawan ditunaikan.

Umpan yang makin hari makin apik menunjukan bahwa Mas Har tidak bisa direkam dari sisi ugal-ugalanya saja. Tetapi jugakepiawaian yang ia miliki dalam mengolah kulit bundar. Kebolehannya sering kita saksikan melalui TV atau di stadion langsung ketika ia melepaskan tendangan ke gawang dari jarak kurang lebih empat puluh yard alias diluar kotak pinalti, hasilnya? Simpan saja momen indah itu bersama bola yang ia sepak.

Serangan sempurna atau sekedar menggiring menawan merupakan sebuah keajaiban yang selalu saya nantikan kehadirannya. Sial, waktu berlalu namun roda tidak bisa dihentikan. Hariono bukan tipe pemain yang sekedar menyongsong loyalitas buta untuk sekedar menyenangkan orang lain. Jajaran pelatih tidak membutuhkan lagi jasa nya, lantas ia memilih mundur secara luhur dibanding mati membosankan memaksa diri menghuni bangku candangan.

Partai perpisahan yang sudah ditetapkan, memberi sedikit kenangan manis yang Hariono sendiri ciptakan di penghujung waktunya bersama Persib Bandung. Satu gol dari titik pinalti dan sebuah assist cukup menambah bumbu pada sore murungitu agar tak terlalu muram. Hingga speech emosional yang menyulut kecurigaan bagi siapapun pendengarnya terluapkan.

About to have nervous breakdown, Hariono!