Iwan Fals, Tisna Sanjaya, Dan Paham Kami Terhadap Usia

Pada hari minggu saat libur sekolah, di Bandung terdapat salah satu stasiun televisi lokal yang menayangkan sebuah acara berjudul “Kabayan Nyintreuk, dalam bahasa Indonesia, nyintreuk berartikan nyentil. Dalam tatanan bahasa sunda, kata nyintreuk biasa juga digunakan untuk menyapa -walaupun terasa agak kasar. Acara inilah yang mengenalkan saya pada sosok seniman besar Indonesia, Tisna Sanjaya, beliau berperan sebagai pembawa acara tersebut, berkeliling kota Bandung mendatangi tempat-tempat yang memiliki nilai historis. Tak jarang ia membawa seperangkat alat gambar, sembari membuat sketsa untuk tempat-tempat yang ia kunjungi. Pada saat itulah saya mengenalnya sebagai salah satu seniman rupa di Indonesia.

Dalam periode yang sama, saat masih berseragam sekolah menengah, telinga saya sedang gencar-gencarnya diperdengarkan oleh tembang-tembang dari Iwan Fals. “Pesawat Tempur”, “Manusia Setengah Dewa”, “Jangan Bicara”, sampai lagu harmonis berjudul “Dimata Air Tak Ada Air Mata” senantiasa menjadi kawan pemutar musik di kamar. Menjadi salah satu penyanyi dalam daftar 5 besar pilihan saya, Iwan Fals membuat setiap kejadian dalam hidup selalu ada dalam alunan lagunya, bak penyihir yang mampu menerawang setiap peristiwa yang akan terjadi. Sebutkan berapa banyak momen dalam hidupmu yang berhasil dinyanyikan dalam setiap lirik lagu Iwan Fals? Kesampingkan gengsi, suka tidak suka, secara tidak langsung ia telah menyampaikan suara kita.

Baik Tisna Sanjaya dan Iwan Fals, keduanya adalah legenda pada bidangnya masing-masing. Tisna Sanjaya sebagai salah satu seniman paling berpengaruh di Indonesia, masuk dalam jajaran seniman yang berhasil menembus Venice Bienalle, satu diantara pameran paling bergengsi di dunia. Aktif sebagai pengajar senior di sebuah institusi seni di Bandung, menjadi seorang yang sangat dihormati oleh mahasiswanya, dan berlaku juga untuk semua pegiat seni rupa. Sosok yang hangat, sangat bersahabat, tak heran orang-orang begitu menyimpan khidmat kepada beliau.

Begitupun seorang Iwan Fals, ratusan, bahkan mungkin ribuan lagu telah ia ciptakan. Pria yang tinggal di Leuwinanggung ini pernah masuk sebagai tokoh paling berpengaruh di Asia versi majalah Times, sebuah capaian prestisius bagi seorang yang hidup di negara dunia ketiga. Tak terhitung berapa banyak Fals Mania –sebutan bagi penggemar Iwan Fals- yang selalu mengeluk-elukan beliau. Bayangkan, di setiap konser musik selalu berkibar bendera OI (Orang Indonesia), sebuah organisasi masyarakat yang diinisiasi oleh Iwan Fals sendiri. Sempat tergabung dalam super grup bernama Kantata Takwa, bersama Yockie Suryoprayogo, Setiawan Djodie, Sawung Jabo, Donny Fattah, dan sang penyair flamboyan W.S Rendra, membuat mereka tercatat sebagai grup musik paling berpengaruh di Indonesia sepanjang masa.

Masih sangat banyak jika harus menceritakan tiap titik perjalanan mereka, dan dari banyak hal yang kita ketahui, mereka adalah sosok pasti dari semua syarat untuk seseorang yang akan dicatat dalam sejarah. Banyak kesamaan antara kedua pria tersebut, telah malang melintang selama puluhan tahun berkarir di dunia kesenian, melalui beberapa peristiwa sejarah yang banyak terlibat. Kekaryaan mereka diisi dengan banyak isu mengenai sosial dan politik, bagaimana berapi-apinya Tisna Sanjaya beserta grup performance art-nya, Jeprut, yang selalu mengangkat isu masyarakat kelas bawah sebagai gagasan penampilannya. Dan dari karya sebagai seniman rupa pun, ia kerap membawa wacana yang sama. Iwan Fals, bahkan pernah merasakan dinginnya jeruji besi saat rezim Soeharto berkuasa, sampai tercipta lagu berjudul “14 April 1984” tentang salam kepada keluarganya. Bersama Kantata Takwa melalui sajak ciptaan W.S Rendra menyampaikan bagaimana keji dan bengis para penguasa saat itu, lagu “Paman Doblang” menjadi bukti bahwa Iwan Fals bisa menyeret seorang konglomerat, Setiawan Djodi, borjuis sejati membawakan lagu ber-rima “Para pangeran meludahi kamu dari kereta kencana//Kaki kamu dirantai kebatang karang”. Seperti Engels yang senantiasa hadir disisi Marx untuk memenuhi kebutuhan membangun artefak pengetahuannya.

Kepekaan serta kepedulian mereka terhadap isu sosial yang sudah diperjuangkan selama ini telah berdampak banyak pada masyarakat, terutama di bidang yang digelutinya masing-masing. Suara lantang mereka sudah menjadi insprirasi bagi banyak pegiat seni, juga masyarakat secara umum. Namun mungkin itu dulu, sebelum uban menjalar di atas kepala mereka.

Istilah Belanda menuliskan “volwas’en”, yang berartikan “sudah tumbuh dengan penuh”. Proses pendewasaan seseorang seiring berjalannya waktu membuat banyak perubahan pada tiap individu, tak terkecuali siapapun. Perubahan alamiah yang dialami setiap umat manusia ternyata berdampak juga pada sang maestro, mutasi personalitas keduanya terasa sangat nyata. Banyak sekali perubahan pada masing-masing dari proses berkaryanya, entah itu wacana karya, pendapat politik, atau frame pada masyarakat.

Lagu “Bongkar” yang menjadi anthem para aktivis untuk berteriak di jalan saat turunkan diri, tiba-tiba menjadi jingle sebuah merek  kopi, perubahan makna atau penurunan kualitas? Hanya seorang Iwan Fals yang mengetahuinya. Seorang seniman grafis yang terkenal dengan protes sosial melalui media karyanya tiba-tiba datang dengan corak kubis dan meneriakan dukungan kepada salah satu kandidat penguasa, ya sekali lagi,  hanya Tisna Sanjaya sendiri yang tahu.

Banyak orang kecewa, tidak sedikit pula yang mengutuk, tapi mari kesampingkan dahulu perihal tersebut. Di negara barat sana, hadir pula seorang legenda, bahkan menjadi salah satu tokoh yang membuat Iwan Fals menjadi seperti sekarang, yaitu Bob Dylan. Sang penyanyi rakyat, dengan lagu berisi lirik puitis yang banyak mengangkat tentang isu yang sama. Tak perlu membahas apa saja yang telah dilakukan seorang Bob Dylan, dia adalah pahlawan bagi banyak sekali masyarakat, tidak hanya di Amerika. Pada tahun 2016, Bob Dylan dianugerahi penghargaan nobel atas bidang literasi, sebuah penghargaan ilmiah paling bergengsi di dunia. Sebelumnya, bertahun-tahun yang lalu ia pernah memprotes tentang penghargaan tersebut, sebuah ajang yang ia sebut hanya berguna untuk kaum elit. Sempat menolak untuk hadir dan mengambil penghargaan tersebut, tapi pada akhirnya ia datang dan memberi pidato “kemenangan” atas penghargaan tersebut.

Mengingat kembali soal usia, mungkin waktu telah menggerogoti mereka, dan sangat sah bila jalan tersebut ‘terpaksa’ harus ditempuh. Pada tahun 1985, Iwan Fals telah menciptakan lagu yang berjudul “Damai Kami Sepanjang Hari”, lagu yang menceritakan tentang hangatnya suasana keluarga, bagaimana cara menyenangkan menghabiskan waktu di rumah. Kalimat “Nada sumbang enyahlah kau, biarkan kami” seperti do’a dalam sunyi Iwan Fals ketika ia tahu kapan dan bagaimana harus bertindak, “Semoga tetap abadi, pagi ini, pagi hari. Esok hari, hari nanti” menyadarkan betapa hari yang akan datang masih dalam angan-angan keabadian.

Setelah tumbuh menjadi seorang yang luar biasa, mereka akhirnya melewati waktu yang mungkin sebelumnya tak pernah mereka bayangkan. Bagaimanapun akhirnya, kita hanya bisa bersikap seperti semestinya orang melihat masyarakat yang biasa, takdir tak pernah tebang pilih menyimbahi manusia. Seperti kata volwas’en yang berujung arti “sudah tumbuh dengan penuh, selesai tumbuh dan dewasa”, maka pengertian tersebut adalah individu yang telah menyelesaikan pendewasaannya, dan siap menerima kedudukan baru. Sudah tak ada lagi mastodon yang akan menghadang, tak perlu berharap lebih pada apa yang kita banggakan. Ketika datang umpatan untuk diungkapkan, ketahuilah, mereka hanya menua, dan tetap seorang legenda.