Nyanyian Anak Bintang: Upaya Menjaga Kewarasan

“Apa yang bisa diharapkan dari bocah ingusan?

Saya sering mendengar kalimat itu dari seorang-tua-yang-merasa-paling-berpengalaman. Tentu saja jawabannya jelas: banyak. Salah satunya terdapat dari sebuah cakram padat yang dirilis oleh label Maraton Mikrofon yang diproduseri musisi serba-bisa dan serba-genre, Senartogok.

Namun sayang seribu sayang, ketika saya menghubungi Maraton Mikrofon, CD Nyanyian Anak Bintang telah habis dan kemungkinan besar tidak akan dirilis ulang. Untunglah ada teknologi bernama soundcloud dan YouTube sehingga saya dapat dengan mudah menikmati album Nyanyian Anak Bintang.

Album ini berisi lagu-lagu ciptaan empat anak yang bergiat di Rumah Bintang – sebuah ruang pendidikan alternatif bagi anak-anak di kota Bandung,yaitu Dries Putra Hidayat, Kaisya Nikita Sukma Yudha, Tri Ananda Bayu Nita Yani, dan Daffi Almeron, yang diiringi petikan gitar oleh Baya, pemain perkusi grup Mr. Sonjaya. Disebarkan satu paket dengan zine dengan harga Rp. 30.000,00.

Upaya Menjadi Waras

Sebagai bagian dari masyarakat yang serba cepat – atau mungkin serba dipaksa cepat – nampaknya selain kemiskinan waktu(time poverty) seperti yang diucap Noam Chomsky, permasalahan kita yang lain adalah kemiskinan kewarasan.

Tuntutan cepat membuat kita tidak memedulikan apa-apa selain kecepatan itu sendiri –bahkan ketepatan sering dilupakan.

Di saat lagu anak-anak yang isinya adalah “Ya tu han tu, ya tu han tu,” dan “Lelaki kerdus,” Nyanyian Anak Bintang datang membawa kesegaran dan juga kewarasan. Hal ini tidak hanya disebabkan lirik lagu-lagu pada album ini diciptakan oleh keempat anak itu sendiri, tetapi memang karena lagu ini layak dengar dan memiliki wacana yang layak pikir pula.

Dengan suara gitar yang sederhana –namun kuat– lagu-lagu pada album ini mengajak kita untuk bermain dan berpikir kembali. Utamanya mempertanyakan soal kewarasan kita hari ini. Secara implisit menanyakan: Sudahkah kita waras?

Seperti dalam lagu Petani, dengan sudut pandang anak-anak, lagu ini mengingatkan kita pada hal sederhana yang selalu dilupakan oleh kita dalam menyikapi petani: bentuk syukur. Sebelum masuk ke masalah konflik agraria atau pembangunan, sudahkah kita berterimakasih pada petani dan pada butiran beras yang kita makan?

Terimakasih para petani

Di hari esok kita makan nasi lagi

Lagu ini seperti mengajak: sebelum kamu menyebut buruknya bandara di Kulon Progo, pembangunan Waduk Jatigede, bandara di Majalengka, atau menyebut petani tidak mau maju juga kemajuan dan pertumbuhan ekonomi harga mati, mari kita bersyukur dahulu kepada apa yang membuat kita bertenaga untuk hidup –atau setidaknya dapat berbicara.

Seperti itu juga yang saya dapat dari lagu Rumah Bintang, anak-anak Rumah Bintang menyentil kita dan segala omong kosong modernitas kita.

Sedikit berbagi, waktu itu saya mengikuti kegiatan pesta pernikahan seorang saudara yang terletak di Jakarta. Saking bosannya dengan acara, saya memilih keluar gedung, menuju warung, dan nongkrong di sana. Lalu ada segerombol orang yang ternyata adalah satu keluarga yang sama seperti saya, hendak nongkrong di warung itu. Lalu ketika seorang anak –kira-kira umur 5 tahun – anggota keluarga itu rewel hampir menangis, ayah dari sang anak “menangani” anak tersebut dengan berkata, kira-kira demikian:

Nanti kita ke mall ya, ke MOIMall of Indonesia) kita ke MOI.”

Saya di sampingnya hanya mesem-mesem saja karena mendengar hal itu –juga karena minuman botol yang saya minum harganya dua kali lipat dari harga biasa.

Lagu Rumah Bintang mengingatkan kita dengan:

Teman-teman datang

Dan mulai berkumpul

Belajar, bernyanyi, bersama-sama

Hatiku senang

Di Rumah Bintang

Banyak teman-teman riang yang menemani

Hatiku senang

Di Rumah Bintang

Belajar bersama teman semua

Seperti keranjingan modernitas, kita seringkali melupakan siapa dan apa anak-anak. Cara menangani kerewelan dengan mengajak ke mall secara tidak langsung menyatakan bahwa anak tersebut sudah dibiasakan bersenang-senang di mall. Sementara jika kita lihat ke lirik lagu tersebut, kita diingatkan tentang seorang anak sebenarnya tidak membutuhkan kemewahan meski gaji ayahnya seratus juta per bulan. Seorang anak tidak membutuhkan kebiasaan berbelanja dengan tujuan “deklarasi eksistensi” oleh orang tua yang kehilangan eksistensinya. Anak-anak pada dasarnya membutuhkan bermain, belajar, bernyanyi yang dilakukan bersama-sama

Lagu lain yang juga menjadi menarik adalah Papua. Papua mengajarkan kita untuk memahami konflik di Papua dari akarnya dengan sudut pandang anak-anak.

Hei Papua. Aku dari Jawa

Kita itu sama, tak ada beda

Apa masalah utama konflik di Papua? Masalahnya adalah mata kita yang sering memelototi orang Papua yang berada di depan kita dengan tatapan keanehan. Adalah mulut kita yang sering mengucap “Orang Papua,” sebagai frasa yang merujuk pada orang degil, bodoh, dan kampungan yang selalu kita lakukan dari tahun ke tahun. Atau sederhananya, permasalahan koflik di Papua adalah bagaimana cara pandang kita melihat orang Papua. Sudahkah kita samakan diri kita dengan mereka?

Lagu-lagu lain juga ikut mengajak kita untuk waras dengan mencoba kembali berpikir pola pikir sederhana yang dimiliki anak-anak untuk menyelesaikan masalah kita, seperti Macet, Layang-Layang, Nelayan. Ini bagai sebuah jawaban – juga tamparan – bagi saya dan generasi-narsistik saya yang hidup dengan tubuh yang artsy dan jiwa yang anxiety.

Seperti yang saya sebutkan di awal, banyak yang bisa diharapkan dari bocah ingusan. Lalu apa yang diharapkan dari bocah-bocah ingusan Rumah Bintang? Tentu saja, mereka akan menjadi orang dewasa yang menghargai hidup dan tidak hidup dengan pertanyaan: Apa yang bisa diharapkan dari bocah ingusan?!”