Bandung Zine Fest 2018: Jejaring Teman Serta Keberagaman Yang Semakin Meluas

“Yang kami bangun selama beberapa tahun terakhir, hasil dari jerih payah mengorganisir sebuah acara. Syukur yang tak bisa digantikan oleh apapun”.

Bandung Zine Fest kembali digelar pada tanggal 24 November 2018, yang bertempat di Spasial, Jalan Gudang Selatan No. 22, Bandung, telah berhasil membawa euforia kawan-kawan pegiat zine serta para publisher mandiri untuk turut ikut serta meramaikan acara tersebut. Dengan venue yang tak bisa menampung puluhan ribu orang seperti sasana lain, menjadikan suasana hangat sangat terasa. Berkumpul serta bertemu kawan-kawan dari berbagai kota, teman lama yang sudah bertahun-tahun tak berjumpa, BZF (Bandung Zine Fest) kembali menjadi tempat ajang silaturahmi sakral bagi semua orang yang datang.

Kembali melihat BZF yang diadakan sebelumnya, sudah banyak sekali perubahan yang terjadi, baik dari segi pengorganisiran, venue acara, dan yang paling mengejutkan, yaitu semakin beragamnya para partisipan tenant yang ikut meramaikan pada BZF 2018. Sebuah pencapaian yang menurut kami sangat patut diapresiasi, juga dijaga keberlangsungannya.

Zine hari ini tidak melulu soal punk, propaganda, sosio/politik, atau hal lainnya yang lekat dengan pergerakan akar rumput. Zine hari ini juga sudah bukan konsumsi bagi lingkaran skena tertentu saja. Dalam beberapa tahun kebelakang, zine mulai merambah dan dinikmati oleh kalangan lain yang notabene ‘bukan’ dari kalangan skena tertentu, dan ini menjadi salah satu pencapaian para pegiat, meluaskan jejaring, merangkul mereka yang baru terjun atau kidung mengenal zine baru akhir ini.

Melihat semakin banyaknya varian pada pengemasan zine oleh para pegiat zine hari ini, terutama mereka yang ikut partisipasi di BZF 2018. Mengingatkan saya dengan fenomena yang di gagas oleh George Maciunas pada tahun 1963, yaitu gerakan Fluxus, sebuah gerakan seni rupa yang berjasa karena telah memperkenalkan semangat kebebasan dalam berkesenian lewat bentuk ekspresi diri. Fluxus hadir untuk menggebrak dan merespon kultur seni rupa saat itu yang terlampau mengagungkan seni rupa sebagai sesuatu yang mahal, melakukan pergerakan untuk menolak paradigma elitis tersebut.

Fluxus yang selama pergerakannya konsisten dengan melampaui batasan-batasan seni rupa yang distruktur oleh pegiat seni kelas atas, bahwa menciptakan karya seni tidak melulu harus eksklusif dan mahal. Menurut George, seni itu sangat luas, bisa memakai apa saja, bahkan paradigma humor sekalipun. Fluxus menjadi sebuah gerakan yang lebih mementingkan hubungan daripada karya itu sendiri, yang secara tidak langsung seperti menanamkan presepsi bahwa seharusnya bagian terpenting dari sebuah karya adalah prosesnya.

Menilik kondisi juga fenomena para pegiat zine hari ini, mungkin terlalu ‘kasar’ jika disandingkan dengan konsep Fluxus yang beroperasi sebagai penantang. Tetapi, semangat membuat zine dengan beragam konten dan bentukan yang berbeda, itulah hal yang sangat diapresiasi. Memawa khazanah personal kedalam zine nya, menjadikan zine sebagai portofolio karya mereka, juga memberi warna baru untuk sekedar mengkoleksi zine tersebut.

Tetapi, yang harus dijaga dan diwaspadai, secara fundamental pergerakan zine ini ditakutkan menjadi boomerang bagi para pegiatnya sendiri, seperti yang dikatakan oleh Amenkcoy dalam artist talk BZE, “Perubahan siklus di dunia zine memang sudah berubah, fungsi zine pun sebetulnya mengalami perubahan, dan itu sangat baik. Tetapi yang ditakutkan, fenomena ini menjadi pedang bermata dua, seakan komoditas zine dianggap meluas dan berkembang, tetapi rasa ‘kekuatan’ dari zine tersebut hilang, rasa tanggung jawab oleh para zinemaker ini yang harus ditimbulkan sejak awal”.

Keyakinan Akan Pergerakan Mandiri

Sejak awal kawan-kawan mengusung Bandung Zine Fest di tahun 2012 (ralat jika salah), semua hal dilakukan secara mandiri, tidak bergantung pada naungan besar, dan ini selalu berhasil. Bermodal jejaring teman, oleh kolektif Network of Friends Bandung, BZF sampai 2018 ini selalu terlaksana dengan lancer, malah semakin besar baik dari segi apapun. Walaupun tak jarang segelintir orang yang menyinggung tentang pengorganisiran BZF, tetapi pada akhirnya semua ikut senang, dan memang menyenangkan.

Keterlibatan banyak pihak yang membantu, membuat kagum dan percaya bahwa pergerakan secara mandiri masih hidup dan akan terus hidup hingga membesar. Seperti yang dilakukan Henry Rollins pada Black Flag, atau Sonic Youth, yang pada masa awal mereka berkiprah di skena musik punk selalu berkarya di jalur mandiri. Cetak poster, membuat artwork, sewa sound, publikasi, relasi teman juga produksi mandiri selalu mereka lakukan, dan kita bisa melihat bagaimana besarnya mereka, juga efek menjadi influens untuk semua warga dunia, tidak hanya kaliber skena punk saja.

Ini bukan soal perlawanan terhadap korporasi besar, tetapi pembuktian akan kerja keras secara mandiri dan berjejaring-pun bisa berhasil. Respon sangat baik setelah acara berlangsung membuktikan bagaimana perjalanan ini membuahkan hasil yang sangat positif.

Bekerja mempersiapkan lebih dari 6 bulan, mengorbankan banyak hal untuk mengurus BZF, terbayar sudah dengan partisipasi 70an tenant, 1000 lebih orang-orang yang datang, hangatnya suasana dari awal hingga akhir acara. Semoga silaturahmi ini selalu terjaga, dan sampai bertemu di Bandung Zine Fest selanjutnya!