Saron Sakina: Masih Pentingkah Pendidikan Musik Formal?

“Bayangkan saja, matematika, fisika, dan lain-lain itu kan melatih logika ya”

Terdengar namanya sejak kecil lantaran lagu ‘Iguana’ yang sempat menjadi salah satu lagu anak populer pada masanya, membuat Sharon Sakina akhirnya lebih dikenal dengan panggilan Sasha Iguana. Sasha yang saat ini masih mengenyam pendidikan sebagai mahasiswa seni musik di Unversitas Pendidikan Indonesia, masih aktif bermusik dan tergabung bersama band indie Rice Cereal and Almond Choco (RCAC) sebagai vokalis sekaligus pemain biola.

Aksi panggung yang menarik yang ditunjukan dari setiap personil dan juga suara khas instrumen seperti cello, flute, dan biola yang dimainkan sendiri oleh Sasha adalah apa yang akan didapat oleh penonton ketika menyaksikan langsung RCAC dengan musik pop-folk-nya. Suasana vintage bercampur haru terasa hampir di setiap lagu-lagu yang mereka ciptakan, seperti salah satu hits RCAC yang diciptakan oleh Sasha ‘Somethings Beside Us’ akan membawa para pendengarnya merasakan gundah dan biru.

Sasha mengemukakan masih pentingnya pendidikan seni khususnya musik dan harapannya terhadap pendidikan musik tersebut. Wanita yang menyukai The Cardigans ini juga menyatakan tentang pendapatnya mengenai sekolah musik dan bagaimana pengalaman dan esensi yang didapat selama berpendidikan di bidang musik.



Ada website yang menyebutkan bahwa Sasha dinobatkan menjadi mojang Dayeuh Kolot, gimana tuh?

Serius? Ko baru tau ya hahaha. Gatau tuh sumpah, baru denger ini juga.

Pertama main musik kapan?

Pertama kali dari kecil., yang Iguana itu. Umur tiga jalan ke empat tahun. Emang suka ngoceh dan seneng nyanyi. Akhirnya Ayah bikin lagu dan liriknya diambil dari ocehan-ocehan Shasa waktu dulu, Lalu dibawain sendiri. Karena Ayah kebetulan musisi juga.

Setelah ada Iguana, gimana Shasa bisa masuk industri musik dan memasarkan lagu tersebut?

Waktu kecil mah kan belum ngerti ya lupa juga haha. Intinya bikin lagu, nyanyi, terus yang jadi produser nya temen-temen.  Ayah juga. power of friends lah ya. Terus untuk pembuatan video klip aku juga emang gak sadar, lagi berkegiatan biasa aja. Kalau disuruh nyanyi ikut nyanyi, gatau kalau itu direkam. Pokoknya kalau masalah industri yang ngurus Ayah dan teman-temannya.

Dari umur tiga tahun sampai sekarang terus menggeluti musik?

Pernah berhenti, mulai sekolah udah ngga. Tapi emang masih suka nyanyi dan main musik, dulu sempet les piano juga. Paling SMA mulai main band. Ikutan ekstrakulikulernya juga ada. Keren lah pada masanya hahaha. Akhirnya dari situ bisa kenal band-band dari sekolah lain terus dapet relasi juga. Lulus SMA bikin band baru lagi sama anak-anak Telkom, main sana sini. mungkin dari situ juga sih asal muasal mojang Dayeuh Kolot muncul hahaha.

Sampai sekarang pengaruh lagu ‘Iguana’ untuk Shasa sendiri masih ada kah?

Ada sih dampaknya. Bisa dibilang lagu Iguana dulu salah satu lagu anak anak yang orang pasti tahulah. Apalagi sekarang lagi marak ‘save lagu anak’, karena lagu anak sekarang dipandang mengkhawatirkan, jadi lagu anak-anak jaman dulu tuh diangkat lagi sekarang.

Jadi keseriusan Sasha dalam bermusik saat ini bagaimana?

Kalau aku pada dasarnya dari lulus SMA punya cita-cita cuma dua: kalau gak jadi scientis, jadi musisi. Kenapa milih musik karena memang ingin punya pekerjaan yang bikin senang aja, gak bikin stres. Sesuai passion udah pasti ya semua orang juga seperti itu, cuma bukan sekedar passion aja, jadi mau kemana-mana pun aku tetap bakalan di situ gitu. Kalau kasarnya mah gak bakalan bosen kalau di musik.

Influence, referensi, idola Sasha?

Kalau dari dulu sampai sekarang sih dengerin The Cardigans. Gak tau kenapa emang senang sama mereka. The Cranberries juga suka. Kalau yang sekarang-sekarang (gak jelas). Pokoknya lebih ke lagu dan band yang dulu dulu sih, The Beatles juga. Kalau dari lokal Guruh Sukarnoputra.

Pengaruh pendidikan musik formal untuk karir bermusik menurut Sasha?

Kalau di UPI enaknya kita belajar gimana caranya mengajar. Beda dengan sekolah musik di tempat lain, mereka hanya belajar soft skill untuk dirinya sendiri, tapi bukan untuk dipelajari lagi untuk orang lain gitu. Walaupun kekurangannya jadi campur aduk banget ilmunya. Tapi kita jadi bisa explore sendiri sih, jadi ilmu yang kita dapat makin luas.

Bedanya musik yang berpendidikan dengan yang otodidak?

Lebih paham apa yang dia mainin sih, walaupun gak menutup kemungkinan orang yang otodidak juga akan paham, cuma gak akan lebih mendalami dari yang memang fokus dalam pendidikan musik. Mulai dari sejarah, awal mula, hingga teori-teori nya, nah orang orang yang gak kuliah musik kan gak dapet itu. Kalau yang otodidak mungkin lebih mengikuti kata hati ya dan mengeksplor dari musik lain, sedangkan yang berpendidikan atau kuliah musik mungkin mengeksplornya lebih ke apa yang dipelajari. Jadi Cuma beda dari segi eksplorasi nya aja.

Penting gak pendidikan musik dalam berkarir musik?

Kalau misalnya pendidikan musik dalam konsep kuliah, penting. Cuma kalau untuk sekedar band-bandan aja sih, ngga juga gak apa-apa. Cuma emang lebih unggul aja yang berpendidikan musik karena tahu seluk beluknya dan kita cuma tinggal belajar pemasarannya aja misalkan.

Ada sisi positif dan negatif nya juga sih, kalau yang otodidak dia lebih bereksplorasi dari orang-orang sekitar, kalau orang yang berpendidikan musik dia memang udah tahu tentang musik itu sendiri. Cuma negatifnya, kebanyakan orang yang dapat pendidikan musik itu dia eksplornya kurang luas, tapi gak semua kaya gitu ya. Mungkin karena sudah merasa cukup bisa, jadi orang tersebut merasa bisa aja gitu, sok-sokan. Mungkin sombongnya orang Indonesia tuh gitu kali ya hahaha.

Tanggapan Sasha tentang stereotip bahwa orang yang berpendidikan musik itu perfeksionis?

Sebenarnya gak semua sih kaya gitu. Mungkin harus tau dulu tujuan mereka bermusik itu apa. Jadi kalau misalkan tujuannya untuk bermain band, kalau menurut aku lebih bebas aja karena kan sekarang musik gak ada aturannya. Bermusik balik lagi tujuannya untuk menyalurkan apa kata hati, karena musik kan sebenarnya pendidikan jiwa.

Banyak musisi besar yang justru bukan lulusan dari pendidikan musik. Kenapa lulusan musik itu sendiri jarang atau sedikit yang bisa muncul seperti musisi besar?

Aku pernah ngobrol tentang ini sih dengan kakak maupun teman-teman. Sebenarnya fenomena itu bukan hanya di band saja, tapi ada juga seperti di paduan suara dan semua musik yang ada di seluruh dunia. Kenapa yang menonjol bukan dari orang yang berpendidikan musik penyebabnya adalah ego. Jadi karena orang yang punya pendidikan musik seperti yang sudah di sebut tadi karena sudah merasa bisa, lalu maksud ingin mengeksklusifkan diri tapi malah jadi kurang muncul. Sedangkan kalau orang yang tidak di pendidikan musik dia bikin musik misal untuk dilihat orang, maka dia akan lebih berani. Bukannya orang yang berpedidikan tidak berani, ada sisi positif dan negatifnya juga sih. Mungkin positifnya untuk orang yang berpendidikan musik mereka ingin musik lebih dihargai dan musik tuh gak sembarang musik gitu. Cuma negatifnya jadi mereka kaya bikin musik untuk diri sendiri, dan misalkan ketika bikin konser gak mau digembar-gemborin, karena sudah merasa bagus tadi. Memang tidak masalah juga, tapi kadang seni itu butuh unjuk gigi ya gak sih?. Masalah ini juga yang ingin aku patahkan sebenarnya, karena bukan berarti orang yang tidak berpendidikan musik diluar sana lebih rendah dalam bermusik. Jadi masalahnya di ego itu sendiri.

Pesan dari Shasa?

Pelajaran musik itu sama pentingya dengan matematika, fisika, dan lainnya. Tapi kita hanya diberi kurang lebih satu jam untuk pelajaran seni. Padahal pentingnya musik kan sebenarnya tidak kalah penting dengan pelajaran umum lainnya. Bayangkan saja, matematika, fisika, dan lain-lain itu kan melatih logika ya. Terus ada pelajaran bahasa untuk melatih cara berbicara dan tata bahasa. Lalu yang melatih jiwa apa? Musik salah satunya. Jadi sebenarnya seni musik itu tidak seremeh itu. Intinya pergunakan pelajaran musik yang kamu dapat sebaik mungkin karena memang musik itu pelajaran bagaimana cara kita mengendalikan jiwa dan musik bukan sekedar hiburan tapi dia juga jadi konsumsi jiwa. Hidup kita tidak hanya ada di logika dan tata bahasa tapi kita juga punya jiwa yang harus dikasih makan.